[CERNAK] Pukul Aku, Mah! - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Sabtu, 30 Juli 2016

[CERNAK] Pukul Aku, Mah!

SuamiBIjak.com - MULAI hari ini, aku ikut mengaji di Madrasah Nurul Musthofa, pimpinan Ustad Mundzir. Dianter sama Mamah, karena belum banyak teman yang kukenal baru dua minggu aku tinggal di Perumahan Hegarmanah Regency ini.

Aku langsung berkumpul dengan teman-teman yang lain. Ustad Mundzir langsung menunjuk aku untuk ta’aruf.

“Assalamua’alaikum, teman-teman...” kumulai perkenalan dengan hati deg-degan. Grogi banget. Semua mata tertuju padaku. Suasana di dalam kelas sangat riuh sekali, sehingga mereka tidak menjawab salamku.
“Mohon perhatiannya anak-anakku!” Ustad Mundzir mencoba menenangkan keadaan.

“Apabila seorang muslim mengucapkan salam pada kita, tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk menjawabnya. Karena salam adalah saling mendo’akan keselamatan antar seama muslim” lanjut Ustad Mundzir.

Karena kharismanya, teman-teman yang tadinya bergemuruh pun langsung diam sekejap. Semua menghadap ke arahku yang kebetulan di samping Ustad Mundzir.

“Silakan ulangi!” perintah ustad yang berjenggot tipis itu.

***
TIDAK sulit bagiku untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Karena bukan sekalinya aku pindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lainnya. Sejak aku duduk di bangku kelas 3 SD. Maklum, Papah bekerja di perusahaan milik negara.

Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Itu menandakan waktunya untuk siap-siap berangkat ke madrasah. Apalagi hari ini jadwalku untuk nyamper teman dekat. Memang, agar semangat mengaji, kami berbagi tugas untuk saling nyamper teman satu sama lain.              
            
“Anak-anakku, kali ini kita akan belajar bacaan shalat dan prakteknya. Siapa yang suka shalat?” Ustad Mundzir membuka pelajaran dilanjutkan pertanyaan yang sedikit mengagetkanku.

“Aku...Aku...Aku...” Jawab teman-teman dengan semangat sambil mengacungkan tangan. Deg.
Aku hanya diam. Jujur. Kalau baca Al Qur’an, aku sudah bisa meskipun nggak terlalu lancar. Tapi untuk yang satu ini. Shalat? Wah, shalatku bolong-bolong. Paling cuma maghrib. Itu juga karena mata mamah yang menandakan waktunya TV harus dimatikan. Padahal acara kesayanganku, Spongebob lagi rame-ramenya.

“Salsa, kenapa kamu tidak mengacungkan tangan?” tanya Ustad Mundzir membuyarkan lamunanku.

“Apa kamu suka shalat, sayang?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, lalu menggeleng.
“Anak-anakku yang shaleh dan shalehah. Allah telah mewajibkan kepada kita selaku hamba-Nya untuk melaksanakan Rukun Islam. Ustad mau tanya siapa yang tahu apa saja Rukun Islam itu?”

“Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat dan Hajjiiii.....” jawab Syahrul dengan mantap.

 “Ya, benar. Shalat merupakan Rukun Islam yang kedua.  Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan shalat, yang mana shalat adalah tiangnya agama. Bila kita tidak shalat, maka agama akan roboh.” Papar Ustad Mundzir sambil mengilustrasikan sebuah bangunan di whiteboard.

“Sejak umur tujuh tahun, kita dididik untuk belajar shalat dan membiasakannya. Dimana sudah genap sepuluh tahun, maka orangtua harus memukul kita apabila anaknya tidak melaksanakan shalat.” lanjutnya dengan sangat jelas.

“Kalau kita nggak dipukul sama orangtua kita gimana?” tanyaku penasaran.

“Salsa nggak mau kan kalau orang tua kita dipukul sama Allah? ”

“Nggak mau,” aku menggeleng.

“Nah, kalau kita sayang sama orang tua. Kita sebagai anak harus mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, juga berbakti samaaa...”

“Orang tuaaaaa...” jawab anak madrasah mengamini.

“Baiklah, kita siapkan perlengkapan shalatnya. Luruskan shafnya, laki-laki di depan, perempuan di belakang.” Ustad yang ramah itu menganjurkan.

***

DUAbelas hari lagi usiaku genap sepuluh tahun. Mulai dari sekarang aku harus membiasakan shalat.

“Mah, besok jam setengah lima bangunin aku ya!” pintaku pada Mamah.

“Mau apa pagi-pagi sekali?” tanya mamah  keheranan.

“Aku mau shalat Shubuh.“

Mamah hanya mengernyitkan kening. Tapi tidak menimpaliku. Mamah hanya menganguk.

“Cha, bangun...” mamah menggoyang-goyangkan badanku.

“Ada apa, Mah? Acha masih ngantuk nih,”

“Katanya mau shalat?” mamah mengingatkanku.

Astagfirullah, teringat apa kata Ustad Mundzir, aku nggak mau kalau mamah dan papah dipukul Allah. Acha sayang sama mereka. Aku cepat-cepat bangun. Meskipun agak sempoyongan, aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudlu.

Kupejamkan mata. Bukan khusyu’, yang ada malah rasa kantuk yang belum juga hilang. Beres salam aku melanjutkan perjalanan mimpi indah di atas sejadah. Mamah yang melihat tingkahku hanya tersenyum bahagia. Alhamdulillah, meski agak dipaksakan pembiasaan shalat kurang lebih selama dua minggu membuahkan hasil. Shalatku tidak bolong-bolong lagi.
***

BESOK ulang tahunku yang ke sepuluh tahun, inilah saatnya untuk berjanji sama orang yang begitu sayang padaku. Selepas Isya, kuhampiri mamah yang sedang memijati papah di ruang keluarga. Papah tidur pulas, habis pulang dari Batam.

“Cha, papah nggak bawa oleh-oleh. Kata Papah hadiahnya besok aja. Kamu mau  kado apa?” kata mamah yang masih memijati kaki papah.


Aku diam sebentar. Kuyakinkan hati ini. “Kalo besok Acha ngga shalat, pukul aku, Mah!” pintaku sambil meninggalkan Mamah yang keliahatannya belum ngerti apa maksudku. Semoga keputusanku menjadi kado istimewa di umur yang ke sepuluh tahun ini. []

***

Oleh: Roni Yusron Fauzi, Guru Muda yang senang #bacatulis. Mengasuh Perpustakaan GRATIS Rumah Baca Asma Nadia Garut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.