[TRUE STORY] Cintaku 40% buat Ayah - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Sabtu, 29 Oktober 2016

[TRUE STORY] Cintaku 40% buat Ayah

SuamiBijak.com - Sebutlah namanya Beben, teman saya yang kini telah bekerja di finance terbesar di Indonesia.
Lulusan D3 Administrasi UNPAD. Telah beristri, satu anak. Ia teman SMA saya berkarakter sanguin dan koleris. Jiwa kepemimpinannya sangat terlihat, apalagi ketika saya suruh untuk menggantikan saya menjadi pemimpin upacara ketika itu.

NAMUN, bukan leadershipnya yang saya bagikan. Cerita cinta yang cukup menginspisasi bagi saya pribadi untuk diambil ibrah (pelajaran).

BAYANGKAN, cintanya pada bapaknya sendiri bila dipersentasekan hanya sekitar 40%. Lalu kemana yang 60% nya? Ke ibunya kah, adik, kakak atau saudara yang lainnya?

 ***

Beben lahir tahun 1983. Ketika umurnya empat tahun, ia sudah ditakdirkan mempunyai orang tua dua pasang, alias orang tuanya bercerai dan masing-masing menikah lagi. Beben kecil tak tahu apa alasan orang tuanya harus melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Bercerai. Baginya mengisi dunianya yang masih polos begitu indah tanpa harus memikirkan urusan orang dewasa. Yang ia kenang, ia sering dibawa Ayahnya seminggu, sepekan kemudian Ibunya yang giliran. Seolah bola sepak yang digiring kesana kemari. Ia menikmati, walau masih tak mengerti apa maksud mereka melakukan hal itu.

Selepas TK, Beben kecil tidak lagi digiring orang tuanya dalam pengasuhan. Ia dititipkan di daerah Wado sama Pak Yaya, kakeknya (ayah tiri Ayahnya). Didikan Pak Yaya menjadikan ia sebagai anak yang mandiri, apalagi untuk masalah agama Pak Yaya-lah yang menggembleng dengan tegas. Pernah ia ingin sekali ikut melaksanakan shalat Jum’at, tapi Pak Yaya mencegahnya, “Kamu
harus suci dulu anakku, berkhitanlah!”

SINGKAT cerita, Beben bersedia untuk dikhitan demi mengikuti shalat Jum’at bersama kakeknya. Ia teringat betul bagaimana proses khitan yang ia alami. Tentu berbeda dengan zaman sekarang yang menggunakan teknologi canggih. Cukup dengan laser, prores perkhitanan selesai. Tapi tidak dengan Beben, supaya dzakar (penis)nya kebal, kalau bahasa Sundanya “baal”, ia diharuskan berendam di sungai. Setelah itu wajahnya ditutupi dengan sarung, supaya ia tak melihat pemotongan dzakarnya.
Dengan sigap sang Bengkong (juru khitan) mencapit ujung dzakar dan dipotong dengan pisau yang sudah diasah sebelumnya. Ia menangis sebentar, namun terobati manakala sang kakek menghiburnya, “Kini kau bisa shalat Jum’at bersama kakek,”
Bengkong (Juru Khitan). Sumber Gambar: Pusat Khitan Sidoarjo

Bersama Pak Yaya ia mengisi hari-harinya dengan indah. Meskipun bahasa sang kakek kadang terasa kasar, namun ia tahu hati sang kakek tak sekasar apa yang diucapkan. Kelas 1 SD ia harus rela meninggalkan Pak Yaya. Ia harus ikut Ayah dan ibu tirinya ke Bandung. Ia hanya bisa menurut walau hatinya merasa berat untuk meninggalkan sang kakek. Bersama Ayahnya hanya dua tahun, karena pengasuhan selanjutnya diserahkan sama Uwaknya.

HATI mana yang tak sakit bila dirinya merasa ditelantarkan. Apalagi oleh orang tuanya sendiri. Beben tak pernah tahu apa alasan kedua orangtuanya berpisah. Untung ia masih punya kakek yang sangat sayang. Ketika duduk di bangku kelas 5 SD, ia kembali dalam tarbiyah (didikan) Pak Yaya, kakek yang tegas, namun welas. Kali ini Beben cukup lama bisa bersama sang kakek tercinta. Sampai ia lulus kuliah D3. [RONI YUSRON FAUZI]

 Sumedang, 26 Agustus 2012
01.13 WIB


***
Saya publish di blog SuamiBijak.com, setelah sekian lama mengendap di notes facebook.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.