Cerpen Keluarga: Ketika Ibu Pergi - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Selasa, 06 Desember 2016

Cerpen Keluarga: Ketika Ibu Pergi

Bagi Rima, ibunya sosok yang sempurna. Ia pahlawan tak berbalas. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengais rezeki sungguh tidak mudah. Menerima kenyataan adalah pilihan yang sangat tepat bagi Rima dan ibunya, lima tahun lalu ayahnya harus pergi karena diabetes yang menggerogotinya.

Dagang nasi uduk tiap pagi jalan satu-satunya bagi Bu Marni untuk mencukupi Rima dan ketiga adik angkatnya. Sebagai sulung, Rima sering membantu ibunya sekedar menyiapkan piring.

Tidak seperti biasanya, hari itu Bu Marni tak dagang. Ia harus ke Rancabuaya, mengangkat Rizal untuk menjadi  anak angkat selanjutnya. Rizal, yatim piatu yang masih ada hubungan keluarga.

Lepas Subuh Bu Marni berangkat. Perjalanan dari Kadungora ke Rancabuaya tidaklah sebentar. Tujuh jam cukup melelahkan bagi Bu Marni. Pening. Bahkan muntah dua kali. Dimaklumi karena Bu Marni jarang bepergian.
Ilustrasi Gambar:  cerana.net

Tiba di Rancabuaya, Bu Marni mendapati Rizal yang tengah asik mengumpulkan remis di pinggir rumahnya. Rizal tersenyum, menghampiri dan menciumi perempuan yang akan menjadi ibunya.

Hanya satu jam Bu Marni istirahat, ia pamit kepada bapak tua yang merawat Rizal selama ini.

Dengan gagah Rizal memakai baju kesukaannya, kaos Angry Birds hadiah almarhum ibu bapaknya. Rizal sudah siap untuk berangkat ke Kadungora dan berkumpul bersama keluarga barunya. Ia nampak senang, belum pernah ia merasakan sebahagia ini.

Elf jurusan Pamengpeuk - Bandung yang mereka tumpangi. Penuh sesak. Bahkan melebihi kapasitas. Sang sopir terlihat tidak sehat, ada aroma minuman keras di mulutnya.

Cikajang yang terkenal dengan kebun tehnya, banyak tikungan yang dijumpai. Sempat beberapa kali Elf yang ditumpangi Bu Marni dan Rizal oleng, hilang keseimbangan. Dan akhirnya…

Elf yang berpenumpang enam belas orang itu masuk jurang. Tiga orang yang selamat, termasuk Bu Marni. Dalam keadaan yang pelik seperti itu, ia mencari Rizal. Sayang, anak angkatnya itu telah berdarah di sekitar kepalanya. Nyawanya tak tertolong.

***
Bu Marni terpaku. Tiap hari tak pernah bergeming bila ditanya siapa pun, kecuali oleh Rima. Ingatan kecelakaan yang menewaskan Rizal sungguh tak bisa dilupakan. Trauma mendalam.

“Bu, kematian adalah takdir. Kita harus pasrah pada ketentuan yang sudah berlaku,” Rima mencoba menghibur.

Ibunya hanya tersenyum.

Rima tak menyangka. Kehidupan dengan mudahnya berubah. Kini ibunya telah pergi. Perjuangan dari pahlawan yang ia banggakan kini sudah tak bersisa. Perempuan yang ia hadapinya sekarang bukan perempuan yang lagi sempurna.

***
Cerpen ini ditulis oleh Tami Oktavia, anggota Kelas Menulis Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.