Bolehkan Wanita Hamil Menikah? - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Minggu, 08 Januari 2017

Bolehkan Wanita Hamil Menikah?

SuamiBijak.com - Sahabat Bijaker, pergaulan anak-anak muda di zaman sekarang sungguh memprihatinkan. Bagaimana tidak, kita sering melihat sepasang anak remaja yang berlainan jenis bermesra-mesraan di tempat sepi, bahkan mereka sudah terang-terangan di tempat umum. Selayaknya mereka sudah menikah.

Bayangkan, di tempat yang terlihat orang banyak saja mereka berani berbuat demikian, apalagi di tempat yang sepi?

Akhirnya yang ditakutkan bisa saja terjadi. Hamil di luar nikah.
 Kartun Pernikahan


Lalu, Bolehkan Wanita Hamil Menikah?


Perlu diketahui, wanita hamil ada tiga macam:

Pertama, wanita hamil yang bersuami
Kedua, wanita hamil yang diceraikan suaminya
Ketiga, wanita hamil yang tidak memiliki suami sah secara agama, yaitu dimana kandungannya hasil dari zina.

Wanita hamil yang bersuami, tidak boleh dinikahkan sama sekali. Karena ia memiliki suami. Agama Islam melarang keras poliandri, yaitu wanita yang bersuami banyak.

Kedua, wanita hamil yang diceraikan suaminya BOLEH dinikahkan, asal ‘iddahnya sudah sampai, yaitu sampai melahirkan anaknya.

Ketiga, wanita hamil yang tidak memiliki suami yang sah, dimana kandungannya hasil dari zina, apakah boleh dinikahkan?

Jawabannya. BOLEH.

Referensinya dari Kitab ‘Ianatuth thalibin (Syarah fathul Mu'in) juz ke-4 dijelaskan, “Kalau hamil itu hasil zina, hamilnya sama saja dengan tidak hamil. Maka, tidak ada kehormatan bagi kehamilannya itu”

Hal ini diterangkan oleh Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi, ketika menjelaskan persoalan ‘iddah wanita yang mengandung.

Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi menjelaskan, “Wanita yang hamil, yang hamilnya dari yang punya ‘iddah (suaminya yang sah), maka ‘iddahnya adalah dengan melahirkan kandungannya. Tetapi, apabila kandungannya tidak berasal dari yang punya ‘iddah itu, maka ‘iddahnya bukan dengan melahirkan.”
“Kalau kandungan berasal dari hasil zina, hal itu tidak ada perhitungan sama sekali, karena adanya kandungannya sama dengan tidak.”

Anak kandungnya itu tidak ada status: tidak dimulai dengan nikah, tidak dimulai dengan cerai, tidak ada ‘iddah, tidak ada ruju’, tidak ada waris, dan tidak ada nasab.

Jadi, ADANYA sama dengan TIDAK ADA.

Dalam surat An Nur ayat ke-32, “Dan kawinkanalah orang-orang yang sendirian (janda-janda) yang ada diantara kamu.”

Di dalam ayat ini, seluruh janda atau orang yang sendirian boleh nikah dan boleh dinikahkan. Terlepas apakah ia sedang hamil atau tidak, apakah ia sedang hamil karena hasil zina atau tidak.
Ayat ini bersifat ayat umum. Asalkan janda atau sendirian, boleh nikah atau dinikahkan.

Kemudian keumuman ayat ini ditakhsiskan (dikhususkan), yakni ada pengecualian dengan ayat lain, yaitu wanita yang dihamili oleh suaminya. Mereka tidak boleh nikah dan dinikahkan sebelum sampai ‘iddahnya (sampai melahirkan anaknya).

Hal ini dijelaskan dalam Surat Ath Thalaq ayat keempat: Dan mereka wanita yang hamil, maka ‘iddahnya ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.”

Wanita hamil yang dimaksud dalam ayat ini adalah wanita yang ber’iddah. Adapun wanita hamil karena zina, tidak ada satu ayat pun atau hadits yang melarang mereka nikah atau dinikahkan.
Sehingga mereka tetap masuk dalam cakupan Surat An Nur ayat ke-32, yaitu orang yang boleh dinikahkan.

Kesimpulannya, nikah atau menikahkan wanita hamil karena zina BOLEH saja. Karena tidak ada larangan dalam satu ayat Qur’an maupun haditsnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.