Namanya Sudah Lahir Sebelum Terlahir - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Rabu, 22 Maret 2017

Namanya Sudah Lahir Sebelum Terlahir

SUAMIBIJAK.COMPasca menikah, dambaan bagi setiap ayah bunda adalah segera mempunyai keturunan. Anak yang terlahir kelak diharapkan menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Pun dengan saya dan istri.

Bahkan namanya sudah saya persiapkan sebelum mereka terlahir. Waktu itu, jika saya dimanahi putra laki-laki, saya akan menamakan Muhammad Mundzir Fauzi, dan jika perempuan akan saya namai Adiba Zulfa Fauzi.

Nama adalah harapan do'a. Harapan dengan nama dibuat menjadi anak yang diharapkan setiap orang tua. Tidak hanya sebatas identitas belaka, melainkan nama bisa menggambarkan karakter, sifat dan perilaku anak. Bahkan tidak sedikit, orang tua yang meminta nama bayinya kepada pemuka agama, seperti Kyai, Ustad. Nama bayi sebaiknya adalah nama yang bagus. Jangan asal-asalan, meskipun terkesan Islami.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada Hari Qiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka, baguskanlah nama-nama kalian!” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi dan Baihaqi)


Biidznillah. Dengan izin Allah Ta’ala. Tiga kali sucian istri saya, ada berita gembira. Ternyata istri saya telat datang bulan. Harap-harap cemas, saya segera membeli alat untuk mengecek kehamilan. Jawabannya, positif. Alhamdulillah.

Hari itu sangat bersejarah, tepat hari Rabu tanggal 12 Januari 2011. Lahir bayi perempuan dengan bantuan nenek, yang kebetulan sebagai mak paraji. Bayi mungil terlahir dengan selamat. Kini bayi mungil itu sudah beranjak ke bangku kelas satu SD.

Kami termasuk keluarga yang tidak mengikuti program Keluarga Berencana (KB), tapi tetap kami ber-KB alias Keluarga Bahagia, Keluarga Banyak, Keluarga Barokah. Sampai saat ini kami diamanahi 3 orang anak: 2 perempuan, 1 laki-laki.

Indah dan nikmat yang sangat luar biasa yang harus disyukuri, Allah memberikan amanah kepada kami dengan anak-anak sholeh sholehah. Bahkan saya pernah Mengasuh 3 Anak Sekaligus. Umminya belanja, saya yang kebagian ngasuh di area permainan. Cukup berabe, tetapi dinikmati.



Semua nama anak-anak saya lahir sebelum mereka terlahir. Karena bagi saya ini serius untuk masa depan saya dan keluarga.

Ketika yang Lain Belum Mendapatkan Momongan


Dawuh Rasulullah, “Barangsiapa yang tidak bersyukur akan nikmat yang kecil, maka tidak akan bersyukur ketika diberi nikmat yang besar....”

Sungguh saya terus belajar bersyukur. Menyukuri apa yang telah Allah berikan kepada keluarga saya dengan anak. Ya. Ketika saya melihat saudara, atau teman saya yang belum dikaruniai anak. Padahal, ada yang 3 tahun belum diamanahi anak, bahkan ada yang hampir delapan tahun belum Allah kasih momongan sama mereka.

“Maka nikmat manakah yang telah engkau dustakan?”

Masya Allah. Dengan keMahaKuasaan-Nya, Allah berkendak dengan sendirinya. Allah berhak memberikan kepada hamba-Nya dengan kenikmatan yang berbeda-beda. Termasuk kenikmatan amanah keturunan.

Amanah adalah kepercayaan. Amanah adalah titipan. Suatu saat amanah itu akan diambil lagi oleh Pemilik.

Allah Pemilik Segalanya. Allah yang memiliki anak kita, termasuk kita sendiri adalah kepunyaan-Nya. Jika suatu saat anak yang kita damba-dambakan, kita inginkan setengah mati, kita urus dengan menggadaikan segala upaya pengorbanan diambil lagi oleh Pemiliknya. Tak ada jawaban yang paling indah selain, “Kita menerima dengan ikhlas”.
Karena sebagai makhluk yang diciptakan adalah datang dan kembali, dari Allah dan untuk Allah.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah Yang Mengurus Seluruh Alam.

Hakikatnya tak ada kepunyaan bagi kita. Tak ada kepemilikan bagi kita. Yang kita miliki sekarang adalah amanah serba gratis dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Termasuk anak. Kelak, anak kita akan menjadi penolong kita di hari pembalasan. Pun akan menjadi musuh yang akan mendakwa kita. Satu sama lain akan saling menghukumi. Saling menjatuhkan. Saling hisab.

Tentunya bagi kita yang sudah mendapatkan anak, semoga bisa menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Pun bagi siapa saja yang sampai saat ini belum juga mendapatkan momongan, semoga Allah kado terindah bagi kita, dengan mengamanahi kita dengan pangeran dan bidadari di dunia. Aamiin.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam #GADianOnasis

Semoga banyak hikmah yang bisa diambil dari artikel sederhana ini.

2 komentar:

  1. alhamdulillah...

    terima kasih banyak atas keikutsertaannya ya mas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak. Senang ikut GA lagi, bisa nambah saudara

      Hapus

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.