Kitalah “Perampok” Kasih Sayang - Suami Bijak

Terbaru

Suami Bijak

Bijak Berkeluarga, Bahagia Berumah Tangga

Kamis, 06 April 2017

Kitalah “Perampok” Kasih Sayang

SUAMIBIJAK.COM - Di tengah semakin tergerusnya budaya lokal dan norma-norma kehidupan dengan gencaran digitalisasi tidak sehat, kita selaku orang tua dituntut untuk semakin bekerja keras mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak kita. 



Bagi orang tua yang sama-sama bekerja, ada baiknya berhenti sebentar dari kesibukan kerja yang menyita waktu untuk anak-anak. Berenunglah. Sudah seharusnya mengamati perkembangan mental dan spiritual anak-anak kita.

Apakah ada yang kurang? Jika YA, kembalillah ke rumah, tengoklah dan luangkanlah waktu sebanyak mungkin untuk bersama mereka. Bahkan, jika Anda ibu yang bekerja berangkat pagi pulang malam, berhentilah Anda bekerja. Itu jalan yang terbaik jika anak Anda ingin menjadi yang seperti diharapkan, seperti dulu ketika Anda sedang mengandung.

Sering kita berikan waktu buat anak-anak adalah waktu sisa setelah bekerja. Dimana dibarengi dengan kepenatan jiwa dan raga, dan kesibukan menyiapkan pekerjaan lanjutan untuk esok harinya.

Sadar, tidak sadar kelemahan kita sebagai orang tua adalah seringnya merampas hak anak-anak. Salah satunya, kurangnya bermain dan bercengkrama bersama mereka. Malah membiarkan anak-anak bermain sendirian. Padahal itu adalah perampokan dengan secara halus. 

Ya. kitalah “Perampok” Kasih Sayang. 

Merampok hak-hak mereka dengan imbalan memuaskan mereka bermain dengan sepuas hati.

Maka, kita perlu berkaca diri. Sudahkan secara emosional kita selaku orang tua terlibat dalam kehidupan anak-anak kita?

Jangan-jangan kita baru saja menumpahkan emosi kepada anak-anak? Dengan cara memarahi mereka karena nilai ulangannya jelek atau karena keseringan main game. Padahal harus disadari, ada peran kita dalam kesalahan mereka.


Bermainlah bersama mereka


Ada kisah yang sangat menginspirasi buat kita sebagai orag tua. Teladan yang diperlihatkan oleh seorang Amirul Mu’minin Umar bin Khoththob r.a:
Suatu hari salah seorang sahabat bernama Al Aqro’ bin Habis hendak menghadap Khalifah Umar. Ia dapati Khaligfah Umar sedang bermain dengn anak-anaknya. Mereka bergelantungan di pundak dan punggungnya. 



Lalu sahabat Al Aqro’ berkata, “Tidak sepantasnya seorang amirul mu’minin berlaku demikian. Seperti inikah engkau berbuat dengan anak-anakmu?”

Khalifah Umar terperanjat, lalu bertanya,”Wahai Aqro, apa yang kamu perbuat di rumahmu bersama anak-anak?”

“Saat kumasuki rumahku, maka duduklah orang yang berdiri, dan diamlah orang yang berbicara, dan bangunlah orang-orang yang tidur. Dan aku mempunyai sepuluh anak, tidak pernah sekalipun aku mencium mereka,”

“Jika demikian, kamu tidak pantas menjadi wali bagi kaum muslimin, “jawab Khalifah Umar.

Lalu Khalifah Umar memerintahkan Al Aqro supaya bersikap baik kepada keluarganya, dan ia mencopot jabatannya sebagai wali.

Pantas Khalifah Umar menjadi kebanggaan Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam, teladannya tersambung. Jika ada orang tua sudah tidak sayang kepada anak-anaknya, bagaimana ia bisa berkasih sayang kepada orang lain, apalagi bawahannya.

Ikut serta bermain bersama anak-anak adalah salah satu bagian membangun cinta dalam rumah tangga. 

Semoga kita bisa terus menjaga dan mendidik anak dengan efektif.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.