Kolom Ayah: Anakku Menjadi Ustazah Cilik - Suami Bijak

Kolom Ayah: Anakku Menjadi Ustazah Cilik

SUAMIBIJAK.COM - Hari Ahad pagi menjadi rutinitas saya mengisi pengajian ibu-ibu di Masjid Iqro. Dimulai dari jam delapan sampai tiba waktu Dhuhur. Cukup lama juga, karena bukan saya saja yang mengisi ta’lim itu. Ada sekitar 2-3 penceramah untuk memberikan taushiah pengajian tersebut.


Biasanya sengaja saya memilih menjadi penceramah yang terakhir, menjadi tantangan tersendiri. Ketika ibu-ibu pengajian sudah merasa jenuh dengan siraman rohaninya, ini terlihat sudah banyaknya jemaah yang tidak tentu posisi duduknya. Saya pun merasakan hal itu. Untuk menyiasati hal tersebut, biasanya saya shalawat menjadi obat kejenuhan para jamaah. Itu salah satu metode saya.

Ahad itu (22/1), seperti biasa saya selalu memboyong anak, istri juga ibu mertua untuk mengikuti rutin mingguan itu. Anak saya dibalut dengan kerudung yang cantik juga gamis dengan ukuran usia 1 tahun. Memang bulan Januari genap satu tahun usia Adiba (nama anak saya).

Jam di handphone menunjukkan pukul 11 siang. Satu jam cukup buat saya berbagi ilmu sebagai penceramah yang ketiga. Shalawat yang menjadi ciri khas saya menjadi pembuka dalam tausiah itu. Serentak para jamaah melantunkan shawalat salam kepada Baginda Rasul shalallahu 'alaihi wa sallam.

Ketika pada pokok pembahasan tausiah, tiba-tiba anak saya yang berusia satu tahun itu nyelonong maju ke depan, ke meja mimbar mendekati saya. “Anak siapa itu, anak siapa itu?” Tanya ibu-ibu pengajian berbisik ke teman di sampingnya.

Saya gendong anak saya sambil memberikan ceramah. Dengan percaya diri, tanpa sedikit pun malu atau nangis, anak saya menatap satu persatu jemaah sambil makan lollipop layaknya seorang da’iah atau mubalighah yang meberikan tausihan di depan mustami’nya. Kontan saja jemaah yang asalnya sedang khidmat mendengarkan ceramah saya, menjadi buyar dengan tingkah anak saya.

Saya hanya tersenyum melihat tingkah buah hati yang sedang lucu-lucunya itu. Begitu pun dengan para jemaah. Mereka tersenyum, bahkan memuji anak saya. Memang yang kami perhatikan, perkembangannya memang berbeda dengan anak sebayanya. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

Mendidik anak memang pembiasaan kita sehari-hari. Ketika kita membiasakan dengan hal-hal yang positif, anak pun akan merekam dengan postif pula. Peran umminya-lah yang menjadi pokok keberhasilan seorang anak. Pantas apabila ibu adalah Madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anaknya. Di sini peran ayah sebagai khadim (pembantu) sang istri.

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya menjadi shaleh dan shalehah. Mengeluarkan biaya pendidikan yang mahal sekalipun, tentu akan dimaksimalkan oleh orang tua supaya mencapai tujuan yang kita harapkan.

Tapi perlu diingat, sehebat apapun pendidikan yang diterapkan, semahal apapun pendidikan yang diberikan, bila kita sebagai orang tua hanya bisa menitipkan saja tentu keberhasilan tak akan sempurna.

Keluargalah yang menjadi basic sebagai tempat menuntut ilmu yang pertama. Tentu kiranya kita sebagai orang tua menginginkan keturuanan yang menjadi kebanggaan kita, karena telah diamanahi Allah ‘Azza wa Jalla.

Anak pun yang akan bisa menolong kita, sebaliknya anak juga bisa mencelakakan.

Semoga duriyyah kita menjadi harapan kita untuk selalu mentaati Allah dan Rasul-Nya. Amiin.

Catatan: Tulisan ini pernah saya posting pada tanggal 23 Feburari 2012 di blog pribadi yang sudah lama diurus.

0 Response to "Kolom Ayah: Anakku Menjadi Ustazah Cilik"

Posting Komentar

Jika Anda memetik manfaat dari blog Suami Bijak ini, segera BAGIKAN kepada anggota keluarga, sahabat Anda.
Agar mereka juga mendapat manfaat yang sama.

Hatur nuhun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel