Kesepian Arjuna || Cerpen Keluarga Kurniawan Al Isyhad

Kesepian Arjuna || Cerpen Keluarga Kurniawan Al Isyhad

Pada malam-malam tertentu kau selalu muncul di sana. Mungkin dari balik Waringin Sengkeran. Lengkap dengan kebaya dan mahkota berwarna emas yang menghiasai rambutmu yang malam. Selendang berwarna kuning melilit di pinggang.

Tak ada yang berani menggagumu. Semua sudah tahu siapa kamu. Sekar. Adik perempuan seorang abdi dalem keraton yang merasa dirinya bidadari. Lagi pula kamu tak pernah berbuat ulah, jadi ya dibiarkan saja. Tapi, matamu yang bulat bening, bibirmu yang merah ranum dan dadamu yang membusung agung memang membuatmu layak disebut bidadari.


Ya, awalnya kamu hanya berdiri. Bahkan bisa sampai 30 menit. Kemudian, kau menengadah, lalu mulai menggerakan tangan dan tubuh dengan gemulai. Kau menari tanpa iringan gamelan.

Namun tetap memesona dalam pandangan. Sepertinya suara gamelan sudah ada dalam kepalamu, atau gemerisik daun-daun pohon fecus benjamina2 yang tumbuh di pinggir Alun-Alun Lor3 itulah iringan gamelan bagimu.

Semua mata tertuju padamu. Ada yang tersenyum sinis dengan kegilaanmu, ada juga tatapan kagum akan gemulai gerak tubuhmu. Dan tarian Arjuna Wiwaha adalah tarian kesukaanmu.

Mungkin itulah sebabnya kau merasa dirimu adalah bidadari yang turun dari kayangan atas perintah Dewa Indra untuk menggoda Sang Arjuna yang tengah bertapa demi mendapatkan senjata pusaka.

Semakin malam, gerakanmu semakin lincah, kian erotis. Kau tak peduli berpuluh pasang mata menelanjangi setiap gerak tubuhmu. Dan inilah yang dinanti orang-orang. Terutama pria hidung belang. Ketika dengan gemulainya kau melepas satu-persatu kain yang menutupi tubuhmu.

Semua terpesona. Kemolekan tubuhmu memang layak mendapat anugerah setara bidadari. Namun, sebelum kau benar-benar telanjang, bersamaan dengan angin kencang, kau pun menghilang.

Mungkin disembunyikan oleh Kyai Dewadaru dan Kyai Janadaru yang mengapit Pekapalan tempat dulu para tamu undangan Keraton Kesultanan beristirahat.

Sekar hilang lagi!

Itulah kabar yang aku dapat dari kakakmu, yang menjadi abdi dalem keraton kesultanan Jogyakarta. Dan aku merasa orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu kini. Maka, kali ini aku segera pergi dari Jakarta ke Jogyakarta menggunakan kereta api.

Dengan harapan bertemu denganmu dan bisa membuatmu seperti dulu. Seperti saat pertama kali kita bertemu di Belanda, ketika kau menjadi salah satu penari dari Keraton Kesultanan Jogyakarta yang mengadakan konser tarian Arjuna Wiwaha di sana.

Perkenalan di Belanda berlanjut kedekatan ketika kita kembali ke tanah air. Kita semakin intim. Kerinduan akan wajah ayumu, suaramu, kemanjaanmu, dan nyamannya setiap kali aku berada di dekatmu dan pastinya gemulai gerak tubuhnu saat menari, sering membuatku bolak-balik Jakarta - Jogya hanya sekadar untuk menemuimu.

Setiap pertunjukanmu tak pernah aku lewatkan. Meski aku sangat sadar, bahwa kerinduan tak pernah tuntas hanya dengan temu.

Setelah menonton pertunjukanmu, kita biasanya menikmati malam di Malioboro, mencari angin di pantai Parangtritis atau jalan-jalan Ke Candi Borobudur. Aku selalu menghayalkan alangkah nikmatnya tubuhmu itu. Tapi tentu saja aku tak berani kurang ajar dan memang aku bukan tipe laki-laki yang kurang ajar kecuali memang wanitanya meminta aku untuk kurang ajar.

Ibarat kucing, aku bukanlah kucing kampungan yang suka mencuri ikan di dapur. Aku kucing angora yang terlatih dan lucu. Tapi bagaimana pun terdidiknya kucing angora, jika disuguhkan ikan segar lalu ditinggalkan, tetap saja ikan segar berbau amis itu disikat hingga yang tersisa hanya kepala dan durinya.

Kau juga wanita yang cerdas dan sepertinya memang pecinta kesenian dan kebudayaan. Dengan bibirmu yang ranum dan merah kau menjelaskan padaku tentang filosopi Candi Borobudur.

"Borobudur yang berbentuk Bunga Padma ini mengikuti filsafat Budha. Halaman di bawah sana, kau lihat!" kau menatap ke arah pelataran paling Bawah sebelum memasuki Candi, "Itu menjadi simbol laut yang berarti dunia bawah."

Aku ikut menatap ke arah mana mata bulat bening itu melihat. Benar saja, dari sini, dari tempat kita berdiri, aku serasa sedang berdiri di atas awan. Bangunan candi sendiri ibarat bumi.

Sampai di sana kau menatapku lekat. “Aku dan kamu sebenarnya makhluk dunia atas yang ada di bumi,” katamu dan tersenyum. Manis sekali. Dan aku yakin, tak lama lagi akan dapat melumat bibir yang merah mawar itu.

“Setiap lantainya mempunya filosofi masing-masing. Dari lantai satu hingga lantai tiga adalah tingkat kamadhatu. Dinding-dinding candi yang bercerita tentang nafsu rendah manusia, adalah ajaran suci Budha. Mengabarkan tentang hukum sebab akibat dalam kehidupan.”

Aku tersenyum,”Tapi bukan itu yang aku ingin tahu.”

“Lantas apa?”

“Kenapa kau suka sekali menari? Dan bagaimana caranya kau bisa menyatu dengan setiap tarian.

Karena setiap melihatmu menari aku seperti sedang menonton sebuah film di bioskop. Tergambar semua yang diceritakanmu melalui setiap gerakan tarianmu. Terutama ketika kau menarikan Tarian Arjuna Wiwaha.”

Kau membetulkan anak rambut yang menempel di bibir. Angin di Borobudur lumayan kencang saat itu. “Karena aku adalah reinkarnasi dari Bidadari. Semua bidadari di kayangan memang ahli dalam menari.”

Aku tertegun mendengar jawabanmu. Memang tak bisa aku pungkiri kalau kau secantik dan semenggoda bidadari dalam dongeng-dongeng.

Tak usah telanjang, hanya dengan memerlihatkan betismu saja, semua laki-laki pasti naik berahinya. Tapi, apakah benar reinkarnasi itu ada? Kalau benar ada, lantas siapa aku pada kehidupan sebelum ini?

Aku berpikir keras. Lalu nyengir sendiri.

Bisa jadi pada kehidupan sebelumnya aku adalah seorang filsuf, atau pendekar atau bahkan hanya tukang kuda di Keraton Jogyakarta,

“Dan bisa jadi kau adalah Arjuna yang aku goda agar bangkit dari pertapaan. Sebagaimana kini, aku sedang menggodamu untuk lari dari pertapaan bersama istrimu.

Bukankah pernikahan kata lain dari pertapaan demi mengendalikan nafsu berahi agar cukup oleh satu kelamin saja?" timpalmu.

Aku terhenyak. Wajahku merona seketika. Darimana kau tahu kalau aku sudah punya istri?

“Aku tahu tentang dirimu lebih dari dirimu sendiri,” lagi-lagi ucapanmu membuatku terhenyak. Jangan-jangan kau benar-benar reinkarnasi dari Bidadari. Sebab hanya makhluk seperti bidadari yang bisa menebak isi hati.

Kau tersenyum manis. “Malam nanti aku ingin kau tidak pulang ke Jakarta. Aku ingin mempertemukanmu dengan kakakku. Dia seorang abdi dalem keraton. Kakakku pasti senang berkenalan denganmu."

“Kakakmu bukan reinkarnasi dari Sengkuni kan?” candaku.

“Ih,” kau menyikutku pelan. Aku pura-pura kesakitan.

Oh Dewata, benarkah aku reinkarnasi Arjuna? Jika benar, apakah harus tidak aku acuhkan perhatian dan kasih sayangnya? Aku menarik napas dalam begitu menginjakkan kaki di stasiun Tugu Jogyakarta.

Sebentar aku memejam mata, aroma tubuhmu tercium segera. Seolah kau berada di dekatku. Atau memang karena hanya aroma tubuhmu yang aku kenal di kota budaya ini.

Kemudian sebuah kenangan terbuka kembali. Malam itu, setelah kau mengenalkan aku pada kakakmu, kita pergi ke sebuah hotel yang tak jauh dari pantai Parangtritis.

Bahkan, dari balkonnya aku dapat melihat gelombang di laut lengkap dengan suara deburan ombaknya. Aroma air laut pun membuat pernapasanku terasa lega. Dan sebagai laki-laki normal, meskipun sudah beristri, bagaimana bisa aku menolak ajakan gadis semenarik kamu. Bahkan baru sampai di lobi hotel, pikiran mesumku sudah merantau jauh menelusuri setiap lekuk tubuhmu.

Kau memintaku untuk mandi terlebih dulu. “Pakailah air hangat,” katamu.

“Kau tak mandi?” tanyaku.

“Aku sudah mandi tadi, tinggal ganti baju saja. Lagi pula nanti aku buka lagi,” senyum nakalmu tersungging.

Ah, alangkah beruntungnya aku bisa menikmati tubuh seorang penari sepertimu. Padahal aku tahu, banyak pria yang tergila-gila padamu. Bahkan dari kakakmu, aku tahu bahwa tak sedikit pejabat dan abdi dalem keraton kesultanan yang menginginkanmu untuk jadi istrinya.

Tapi kau selalu menolak dengan berkata, “Aku terlahir hanya untuk Arjuna."

Jadi aku dong Arjuna itu? Aku tertawa sendiri sambil mengguyur tubuh dengan air hangat.

Lalu aku teringat ucapan kakakmu tadi bahwa mungkin hanya aku yang bisa membuatmu kembali jadi dirimu sendiri. Meski aku tak begitu mengerti maksud dari ucapan kakakmu itu, tapi aku menganggukan kepala dan tersenyum.

Hah! aku sedikit kaget ketika keluar dari kamar mandi. Aroma kembang mawar sangat menyengat. Asap dupa mengepul dari sudut kamar. Semakin kaget aku ketika melihatmu telah berganti baju dengan pakaian yang biasa kau gunakan untuk menari.

Sebuah kebaya dengan bahu terbuka membuat susumu yang putih membusung seolah memberontak minta dibebaskan oleh remasan.

Dengan langkah gemulai kau mendekatiku yang masih memakai handuk. Kau memberikan aku pakaian. Keningku berkerut. Kemudian tersenyum. Sungguh imajinasi yang liar. Bahkan istriku tidak memiliki imajinasi sex seliar ini.

Kau memintaku memakai pakaian yang biasa dipakai seorang penari pria ketika memainkan tarian Arjuna Wiwaha. Sebuah celana selutut yang dibelit oleh jarit batik. Bahkan ada mahkota serta gondewa yang harus aku sampirkan di bahu.

“Duduklah,” pintamu.

Aku duduk. Bersila seperti orang yang sedang bertapa. Di kejauhan debur ombak Parangtritis semakin jelas terdengar. Aku memejamkan mata. Tiba-tiba aku merasa sesuatu masuk melalui ubun-ubun, kemudian mengalir bersama aliran darah.

Aku menarik napas. Hatiku terasa cemas. Begitu membuka mata, hampir saja aku berteriak kaget karena kini aku berada di tempat yang benar-benar asing.

Aku duduk bersila di atas sebuah batu dalam sebuah gua. Angin dingin menerpa tubuhku yang setengah telanjang.

“Bangunlah pangeran, menarilah bersama hamba. Sungguh akan hamba persembahkan tubuh ini hanya untuk pangeran,” sebuah suara mengalun indah. Tak lama di depanku hadir sesosok wanita berkebaya dengan bagian bawah belah hingga pangkal paha.

“Sekar ...” bisiku.

Kau tersenyum penuh rindu. Dengan gemulai semakin mendekatiku lantas tanpa ragu duduk dipangkuanku. O aroma tubuhmu bagaikan candu yang harus segera aku hirup.

“Ayo pangeran Arjuna, puaskan berahimu bersamaku.”

Tiba-tiba seberkas cahaya masuk. Menyilaukan mataku. Sebuah kekuatan menarikku kembali ke dunia nyata.

“Tidak Sekar! Aku adalah Arjuna, maka aku harus tetap bersemedi!" teriakku sambil mendorong tubuhmu yang sudah berada di atas tubuhku.

“Itu dulu Pangeran. Kini semedimu telah tuntas. Pusaka pasupati telah kau genggam, Raksasa Niwatakawaca telah tewas. Kini, mari tunaikan berahi yang dulu belum sempat terlahir, suaramu bergetar menahan nafsu yang sedang menggelegak.

"Tidak, Sekar! Sang Arjuna harus selalu bersemedi. Kini, nanti dan pada reinkarnasi-reinkarnasi selanjutnya," segera aku bangkit dan mengenakan pakaian. Kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkanmu yang masih asik menari berharap berahi terpuaskan sendiri. Jangan pergi Pangeran Arjuna! teriakmu.

Sejak saat itu, tak pernah lagi aku bertemu denganmu. Aku sadar, mengendalikan nafsu adalah kewajiban Arjuna-Arjuna yang dilahirkan di muka bumi.

Hanya saja, kakakmu selalu mengabarkan aku tentang kondisimu. Katanya kamu sakit. Aku kira sakit biasanya. Namun kabar terakhir yang aku terima semakin menyadarkan aku bahwa kau benar-benar membutuhkan sosok Arjuna di hidupmu.

Aku melangkah keluar dari Stasiun. Jika aku benar-benar Arjuna, harusnya aku biarkan saja kau dengan segala imajinasi liarmu. Karena jika dulu aku diselamatkan entah oleh apa dari nafsu berahi, kini belum tentu aku bisa menahan diri. Kerinduanku sebagai manusia pada seorang kekasih bahkan mampu membangkang titah Ilahi.

(Cimahi - Saat hujan turun dengan sangat jahanam)

Anda mungkin menyukai postingan ini