//

SUAMIBIJAK.COM - Sholawat Seekor Anjing - Sebelum menjelma seekor anjing yang bershalawat, kau adalah Rajab. Pemuda pengangguran bermata setan yang selalu berbuat onar. Meskipun belum perah kau mencelakai seorang pun warga Desa, tapi konon, mencari perkara denganmu sama saja dengan meminta luka.

Masalah tidak akan pernah selesai sebelum salah satu diantara kamu dan musuhmu mati. Seperti yang terjadi pada Ujang Mukhlis. Hingga kini terpaksa harus menghindar darimu. Itupun kalau Ujang Mukhlis ingin tetap hidup.


Begitu juga dengan Haji Zarkasih, orang terkaya di Desa Rende. Tak pernah sekalipun berani menampakan hidung semenjak kamu mengancam akan membuat hidupnya menderita, karena Haji Zarkasih telah membuatmu mendekam dibalik jeruji hingga 6 bulan.

Namun ada yang tidak diketahui orang lain kecuali aku. Sejahat-jahatnya kau, bahkan dalam kondisi mabok parah sekali pun, kadang dari bibirmu terdengar senandung.

Meskipun tak jelas apa yang kau senandungkan, tapi aku selalu melihat raut wajah teduh setiap kali kau bersenandung. Satu lagi, kau tidak segan untuk memberikan apa pun yang kau punya untuk acara Marhabaan yang dilaksanakan setiap malam jumat di satu-satunya masjid di Desa Rende.

Kenapa tidak kau saja yang berikan? Atau kau ikut Marhabaan?

Goblok! Mana mau mereka menerima barang atau uang hasil curian. Sudahlah kau saja yang berikan dan jangan bilang itu dariku.

Tapi aku tak mau berbohong, Rajab.

Kalau begitu katakan saja itu dari anjing. Bukankah itu sebutan warga desa terhadapku? kau tertawa kecil. Titel anjing yang disematkan warga padamu tak sedikitpun membuatmu bersedih.

Hingga pada suatu malam terjadilah sebuah peristiwa yang menjadi titik balik dalam hidupmu. Peristiwa yang benar-benar membuatmu jadi seekor anjing.

Malam sudah habis sepertiganya. Kau baru saja pulang berjudi di sebuah kedai, tentu saja sambil menenggak bergelas-gelas arak.
Purnama bersinar malam itu. Malam-malam kok ada matahari, kau bergumam kemudian tertawa sendiri. "Goblok! Itu bukan matahari tapi lampu taman, katamu lagi.

Dan tentu saja disertai tawa lepas. Tiba-tiba kau menghentikan tawa. Bahkan aktifitas menarik nafas pun kau hentikan sejenak. Sayup terdengar olehmu sebuah senandung merdu. Jiwamu bergetar. Kau menarik napas dalam dan terpejam. Bahkan senandung itu mampu melindap pengaruh arak dalam kepalamu.

Kau tersenyum. Wajahmu memancarkan kebahagiaan. Senandung itu bagaikan tangan-tangan sejuk yang menyentuh sampai ke dalaman jiwa. Hatimu terasa tenang. Gelisah, cemas dan lelah akan perjalanan hidup seketika hilang berganti cinta dan kerinduan entah pada siapa. Kau melangkah. Mencari siapa pemilik suara itu dan apa yang disenandungkannya.

Hingga senandung itu menarikmu pada sebuah rumah paling mewah di desa kami. Rumah Haji Zarkasih, seorang petani sukses dengan ratusan hektar kebun cengkeh. Kau berjalan mengendap-ngendap. Menuju belakang rumah, tepatnya jendela sebuah kamar.

Senandung itu makin jelas. Halimah, lirih. Pelan saja, kau mengikuti senandung itu. Hatimu semakin tentram jiwamu seketika melayang. Senandung itu lebih hebat dari candu memengaruhi otakmu.

Kau mengintip. Namun sial. Baru saja kau menghapal satu bait, orang dalam kamar menjerit ketakutan ketika mengetahui kau sedang mengintipnya. Teriakan itu kontan membangunkan penghuni rumah yang lain, juga mengagetkan beberapa orang ronda yang sedang berkeliling.

Tapi aneh, kau sama sekali tidak takut apalagi mencoba kabur. Dalam setengah sadar kau justru duduk selonjoran di tanah, sambil terus bersenandung. Air matamu nampak berlinang.

Aku yang tertinggal ribuan tahun dibelakangmu
Hanya bisa menangis mengenangmu
Merahasiakan cinta ini begitu neraka
Rindu ini lebih jahat dari candu
Aku mabuk hanya dengan mengingat namamu

Bahkan kau tak sadar ketika beberapa orang warga mengelilingimu. Kau tetap tenang, terpejam, sambil terus menyenandungkan apa yang tadi didengar dan menempel dalam ingatan.

“Dasar pemabuk! Kau mau mencuri ya! Atau kau sedang mengintip putriku! Apa yang akan kau lakukan pada anakku hah!" Haji Zarkasih membentakmu penuh jijik.

Tentu saja Haji Zarkasih berani karena bersamanya ada ronda dan beberapa orang penduduk yang ikut terbangun oleh jeritan Halimah.

Kau tetap tak memedulikannya. Telingamu mendadak tuli. Matamu masih terpejam, dan bibirmu terus menyenandungkan shalawat berulang-ulang.

Beberapa orang warga saling berbisik. “Ah, dia baca sholawat agar kita mengira kalau dia sudah bertaubat lalu melepaskannya!

“Pastinya!”

“Hajar!” teriak Ujang Mukhlis penuh dendam.

Bak! Buk! Bak! Buk! Pukulan dan tendangan menghajar setiap inci tubuhmu dengan beringas. Bahkan ada yang sambil bertakbir ketika memukulkan balok kayu ke kepalamu.

“Maafkan aku karena saat itu tak bisa menolongmu, Rajab.

Tapi lagi-lagi keanehan terjadi. Kau sedikitpun tak berteriak kesakitan, kau pun tak mengadakan perlawanan. Kau seolah sedang berada di dunia yang berbeda. Bibirmu tak henti melantunkan shalawat penuh khidmat.

Brak! Sebuah balok kayu menghantam kepalamu. Buk! Tendangan menghajar punggungmu. Cacian dan makian seolah air bah yang sejak lama terbendung dan kini tersalurkan pada orang yang tepat.

Kau tetap diam. Meringkuk, memeluk lutut sambil tak henti melantunkan shalawat.

Namun justru itu semakin membuat orang-orang beringas. Kekesalan, amarah yang selama ini tak terluahkan, malam itu lebih deras dari hujan. Membilas habis tubuhmu.

Tubuhmu bergoyang-goyang menerima hantaman. Hingga akhirnya dari bibirmu tak terdengar lagi suara. Matamu terpejam. Dadamu beriak tenang. Bukan mati tentu saja. Mungkin hanya mati suri untuk hidup kembali sebagai diri yang lain.

“Bangun, Rajab! sebuah suara membuatmu langsung membuka mata. “Halimah kau, lirihmu. Hatimu bahagia. di depanmu kini berdiri Halimah, bunga desa yang selama ini sering menjadi bahan imajinasimu saat onani.

Halimah mengisyaratkan kau untuk mengikutinya. Kalian pun jalan beriringan. Halimah di depan dan kau di belakang. Kalian keluar dari halaman rumah. Berjalan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan Desa Rende dengan sebuah bukit tandus.

Sepanjang perjalanan, tak sepatah kata pun terucap, dan tentu saja kau, sejak dulu memang tak pernah berani bicara pada Halimah. Jangankan bicara, memandang wajahnya pun kau tak pernah bisa berlama-lama. Kau hanya mampu menghayalkannya setiap berahi merasuki diri.

"Akan aku bawa kau menemui Sang Nabi," kata Halimah tiba-tiba.

Hening pun pecah.

"Alhamdulillah. Benarkah?"

Halimah tak menjawab lagi. Kalian terus berjalan. Ada yang aneh, jalan setapak itu kau rasa sangat jauh. Padahal dari rumahmu saja yang ada di ujung desa, biasanya cukup 10 menit untuk bisa sampai ke atas bukit itu. Bukit yang oleh penduduk dinamai Bukit Gajah.

Angin terasa sejuk menerpa wajahmu. Aroma rerumputan tercium melegakan pernapasan. Jalan setapak ini memang membelah padang rumput gajah setinggi hampir dua meter. Jika dari atas, jalan setapak ini terlihat seperti jalan Musa ketika membelah lautan dengan tongkatnya.

“Kalau cape, lebih baik kau kembali saja,” ucap Halimah pelan sambil terus melangkah tanpa menengok.

“Tidak, Halimah. Saya tidak capek. Saya ingin bertemu dengan Sang Nabi. Apakah beliau menunggu kita di atas bukit?"

Lagi-lagi Halimah tak menjawab.

Perjalanan terasa begitu panjang. Kau menarik napas dalam sambil menengadah. Langit malam masih jauh dari fajar. Padahal kau merasa sudah berjalan berhari-hari. Keringat mulai bercucuran. Bajumu sudah basah. Rambutmu seperti orang yang baru saja mandi junub.

“Masih lama, Halimah?”

“Capek?”

“Tidak,” Kau cepat berkilah. Demi Allah, tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Aku yakin Halimah bisa memertemukan aku dengan Sang Nabi yang selama ini selalu ada dalam pikir dan Zikir.
Setelah berhasil keluar dari himpitan rumput gajah. Kalian tiba di sebuah padang tandus berdebu.

Datar, hampir tak ada tumbuhan. Namun dari sana mulai terlibat bayangan hitam Bukit Gajah. Halimah menghentikan langkah. Kau ikut berhenti. Yakin ingin melanjutkan perjalanan ini?” tanya Halimah tanpa menoleh.

Kau yang sejak tadi sudah terengah-engah tak bisa langsung menjawab. Karena tenggorokanmu terasa sangat kering. Panas, seperti menelan bara.

Halimah kembali melangkah. Kau segera mengikutinya meskipun dengan napas terengah-engah. Anehnya, Halimah tak sedikitpun terlihat lelah. Bahkan gerak langkahnya seperti mengambang. Angin bertiup kencang. Debu beterbangan. Kau bahkan tak ingat sejak kapan Desamu memiliki padang tandus ini. Kau merasa berada dibelahan bumi lain.

Lututmu semakin lemah. Langkahmu zig-zag. Ingin sekali kau berhenti untuk istirahat meskipun sejenak. Tapi ketika terbayang siapa yang akan kau temui nanti, ada energi gaib merasuk. Air matamu jatuh. Ya Rosulullah, tunggu aku. Jangan menghilang sebelum aku datang.

Bruk! Kau terjatuh. Halimah menghentikan langkah. Mau kembali?”

“Tidak. Saya tidak akan berhenti.

Saya akan terus bergerak meskipun dengan merangkak seperti anjing,” suaramu mulai serak. Di tenggorokan seperti ada bara yang masih menyala, menyumbat sebagian alur pernapasan.
Kau mencoba bangkit. Di atasmu, hanya ada satu bintang dan satu purnama yang bersinar. Selain itu hanya gelap.

Halimah sudah lebih dulu melangkah.
“Tunggu, Halimah! kau segera melangkah, namun, Bruk! Kau kembali jatuh.

Halimah menghentikan langkahnya sebentar. Kau mengira dia bakal menengok. Ternyata tidak. Halimah kembali melangkah tak pedulikan kondisimu yang sudah sangat lemah hampir sekarat
“Tunggu Halimah. Tunggu ....”

Tapi lagi-lagi Halimah tak peduli. Dia terus berjalan bahkan terlihat makin cepat saja.

Kau mengelap keringat dengan tangan. Lalu mulai merangkak, sambil sesekali memanggil Halimah yang terlihat semakin jauh.

Halimah tunggu! suaramu hampir hilang. Malam sepertinya masih panjang. Air mata terus berlinang. Kau tak ingin mati sebelum bertemu Sang Nabi.

Ya Allah, beri aku kekuatan. Aku ingin bertemu kekasihmu yang mulia. Tolong aku ya Allah ...

Hatimu menjerit. Sambil terus merangkak. Setiap kali terjatuh kau berusaha bangkit kembali.
Air mata semakin deras.

Tangan dan kaki semakin terasa berat untuk digerakkan. Sedang Halimah semakin terlihat mengecil. Dan sebelum menghilang, terdengar suaranya. “Aku duluan. Kau teruslah berjalan di jalur ini. Jalur sepi. Meskipun harus merangkah seperti anjing. Sebab cinta pada Nabi hanya bisa dibuktikan dengan sepinya hati.

Semangatmu bangkit kembali. Seperti ada kekuatan gaib yang merasuki diri. Berjalan bersama aliran darah, menjadi tenaga. Kau bangkit berdiri. Melangkah meskipun masih sempoyongan.

Punggung Halimah mulai terlihat kembali ketika dia mulai mendaki bukit. Sementara di atas bukit ada sebuah cahaya terang memancar. Tapi tidak menyilaukan. Melainkan meneduhkan.

Cahayanya bahkan menerangi sebagian lereng bukit. Sungguh indah dan damai. Hatimu berdegup lebih cepat. “Kau kah itu Muhammadku?” tanyamu pada diri sendiri dan tentu saja tak menemukan jawaban.

Kau memperkuat kaki, mempercepat langkah. Cahaya itu semakin terlihat terang, Bahkan seperti mercusuar, sesekali cahayanya menyapu tubuhmu.

Kau tak menyangka kalau malam ini akan bertemu dengan seseorang yang selama ini hanya bisa kau sebut namanya. Hanya bisa mengaku cinta kepadanya tanpa tahu apakah dia menerima cintaku atau tidak. Hanya bisa kau rindui dalam waras dan gilamu.

Bukit mulai kau daki. Air mata terus berlinang. Air mata bahagia karena malam ini akan bertemu dengan seseorang yang sangat kau rindukan, namun ada setetes dua tetes air mata cemas dan ketakutan. Takut dia tidak mau menemuimu karena kau sadar siapalah kau selama ini.

Setengah bukit telah kau daki. Halimah bahkan sudah terlihat memasuki cahaya itu. Begitu damai menatapnya. Kau tersenyum dalam tangis. Kakimu bergerak pelan. Tapi aneh, setiap kau semakin dekat, cahaya itu seolah mundur menjauhimu. Kau percepat langkah, tapi lagi-lagi cahaya itu kembali menjauh, bahkan kini cahaya itu seperti mengambang di langit.

Tubuhmu terasa sangat lelah, tulang-tulang seolah lepas dari persendiannya. Tapi kau tak boleh kalah, kau belum ingin mengalah.

“Jika aku harus merangkak seperti Anjing, maka jadikanlah aku anjing. Akan aku tempuh hidup menjadi anjing demi untuk bertemu denganmu!” kau berteriak.

Bukit seolah bergetar. Kau berpegangan pada ranting pepohonan. Tiba-tiba dari atas sebuah batu hitam menggelinding cepat menuju ke arahmu. Kau memejamkan mata ngeri.

"Tubuhku pasti hancur. Aku pasti mati sebelum bisa bertemu denganmu."

Brak! Batu besar itu menghantam tubuhmu. Kau terpental. Tubuhmu melayang. Sebelum akhirnya terjatuh ke bumi. Gelap menyelimuti tatap.

Kau membuka mata. Pelan, gelap menjadi remang, kemudian terang. Orang-orang menatapmu iba, lebih banyak jijiknya.

Perlahan kau bangkit. Tersenyum tipis, “Kan kujalani hidup sebagai anjingnya.” katamu lalu pergi. Melangkah zig-zag, sempoyongan sementara dari bibirmu terdengar lantunan sholawat, menuju Bukit Gajah. Menyusuri jalan setapak yang kalau di lihat dari atas seperti laut yang dibelah tongkat Musa. Dan Sejak saat itu kau tak pernah menampakan diri di desa.

***
Tepat setelah empat puluh hari kau menghilang, sesaat sebelum hujan pertama turun setelah hampir sembilan bulan Desa dilanda kekeringan, terdengar lolongan anjing dari atas bukit. Suaranya begitu menyayat seperti jerit tangis seorang gadis yang merindukan kekasihnya. Hujan turun dengan sangat deras.. Malam itu, tak ada seorang warga pun yang berani keluar rumah.

Bukan! Bukan takut kehujanan, melainkan lolongan anjing itu mengingatkan mereka padamu. Pemuda yang empat puluh hari yang lalu hampir mampus mereka siksa sedemikian rupa hanya karena dituduh mengintip Halimah. Bunga desa yang tak pernah menampakkan diri kecuali bulan Mulud, itu pun jika warga mengadakan acara Muludan untuk mengenang hari kelahiran Nabi, sekaligus mengajarkan pada anak-anak bahwa tidak akan bisa mencintai Nabi tanpa mengenalnya lebih dulu.

Dalam acara muludan itulah sejarah Nabi Muhammad yang mulia dikupas tuntas. Biasanya, Haji Zarkasih yang membacakannya. Meskipun semua warga tahu, Haji Zarkasih terkenal pelit dan sombong. Tapi siapa lagi? Karena di Desa tidak ada lagi yang bisa membaca Maulid Barzanji, apalagi harus menerjemahkanya.

Esok harinya, suara lolongan anjing semalam menjadi obrolan paling utama di warung kopi, di sawah ketika warga beristirahat dan menjadi gosip hangat ibu-ibu di teras sambil nyari kutu.

“Apakah dia si Rajab? Kamu ingatkan apa yang dulu dikatakannya sebelum menghilang? ucap Ujang Mukhlis kepada Ade codet.

“Aku takut dia datang untuk membalas dendam kepada kita. Kalau masih manusia sih bisa diatasi, repotnya jika kini dia sudah menjadi siluman anjing,” ucap Ujang mukhlis kembali. Wajahnya memancarkan gelisah dan ketakutan.

Bukan cuma Ujang Mukhlis dan Ade codet yang ketakutan, tapi semua warga. Terlebih mereka yang kemarin ikut menyiksamu. Hati mereka berdebar. Tak terbayang oleh mereka ketika kau tiba-tiba muncul di depan mereka dalam wujud seekor anjing besar dengan lidah menjulur siap menyerang.

Dengan dipimpin oleh Haji Zarkasih, akhirnya hampir semua warga desa yang laki-laki, sepakat untuk mencarimu, atau tepatnya mencari anjing yang semalam sudah membuat mereka tidak tidur. Setiap lekuk sudut bukit disatroni.

Bahkan lubang-lubang digali. Tapi hingga hari berubah gelap, keberadaanmu belum mereka temukan. Warga pun pulang dengan hati makin cemas. Malam nanti mereka kembali tidak akan dapat tidur pulas.

Malam itu, hujan kembali turun meski tak sederas kemarin malam. Suara lolongan anjing kembali terdengar. Kali ini lebih lama dan lebih terdengar menyayat pendengaran. Mengendap, menyelinap di antara rumah-rumah warga.

Seperti dingin yang siap membunuh mereka dengan kesepian. Telinga mereka seperti ditusuk jarum. Sakit dari dalam. Membuat mereka gelisah tak karuan. Hingga malam berganti fajar, hampir semua warga tak dapat terlelap.

Pada malam-malam selanjutnya lolongan anjing selalu terdengar. Sehingga warga sudah sangat terbiasa mendengarnya. Bahkan kini suara lolongan anjing itu terasa damai.

Bagaikan tangan-tangan sejuk yang menyingkirkan segala penat dan lelah setelah seharian beraktifitas. Seperti tangis kerinduan gadis belia pada kekasihnya. Tak jarang tanpa sadar warga desa ikut melolong seperti anjing. Namun tak semerdu dan sesyahdu lolongan anjing dari atas bukit.


Jika anjing itu jelmaanmu, maka lolongan anjing itu adalah shalawat. Shalawat yang kau senandungkan sebelum menghilang dan berkata, Biarkan aku tenang menjadi anjingnya saja."

***
Kurniawan Al Isyhad - Pria penyuka warna hitam yang benci payung dan jas hujan. Diproduksi di Sumedang oleh bapak kemudian dilahirkan oleh ibu di Kota Cimahi. Tak ada yang istimewa dari pria ini, selain bisa tidur sambil duduk tanpa bersandar. Bisa dihubungi di 082217237178
Next article Next Post
Previous article Previous Post