Jangan Mengeluh Jika Kamu Belum Punya Momongan. Allah Sedang Ngasih Waktu Kamu Perbaiki Diri

Jangan Mengeluh Jika Kamu Belum Punya Momongan. Allah Sedang Ngasih Waktu Kamu Perbaiki Diri - Setelah impian itu terwujud, menjadi pasangan pasca nikah, ada impian lainnya yang mesti dikejar. Dianugerahi Anak.

Namun, tidak sedikit yang tidak sesuai yang diharapkan. Anak yang didamba-dambakan tak kunjung datang. Mending ada gejala hamil. Ini mual saja tidak.


Ayah Bunda bijaker...
Mengenai anak berurusan dengan keyakinan. Berhubungan dengan keimanan pula.

Yakinlah bahwa Allah belum mempercayai kepada Ayah Bunda. Karena anak adalah amanah. Amanah yang mesti dijaga, diasuh dan dididik. Bukan hanya sebatas sudah memiliki anak, lantas cukup merasa diri sudah menjadi orang tua.

Jangan Mengeluh, Terus Berusaha dan Berdoa. Yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan.


Cari teman yang bisa menguatkan. Jangan mencari teman ngobrol yang hanya mengumbar kejelekan orang lain.

Jiika ingin mendapatkan input positif, maka teman yang bisa memotivasi akan memberikan energi positif buat kita. Ini upaya kita supaya tidak terjebak dalam keluh kesah yang tidak terarah.

Terus Berdoa, Minta Doa dan Banyak Mendoakan


Ini langkah keluarga bijak untuk meraih sesuatu. Terkadang kita hanya berdoa saja. Apalagi untuk diri pribadi. Paling tidak buat keluarga sendiri.

Bagus memang. Tapi kurang poll. Kurang lengkap. Ada baiknya, setelah berdoa, kita pun minta doa sama orang lain. Orang-oranf terdekat. Apalagi minta doa kepada orang tua, guru dan anak-anak yatim.

Mendoakan kebaikan untuk orang pun adalah ikhtiar kita untuk meraih impian mempunyai anak. Menyusui bayi seperti orang lain yang saat ini kita hanya bisa melihat dengan kesedihan.

Ingin Mempunyai Anak, Cek Kesehatan Medis dan Non Medis


Pastikan antara Ayah Bunda mengecek kesehatan ke dokter kandungan. Pastikan juga keduanya sehat secara lahiriah.

Jika keduanya benar-benar sehat, tetapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun belum dikaruniai anak, tidak ada salahnya mengecek kesehatan secara non medis atau dengan pengobatan tradisional.

Namun, untuk memilih jenis dengan mengecek kesehatan secara non medis atau tradisional harus pintar-pintar memilih dan memilih.

Jika tidak berbenturan dengan syariat, maka sangat diperbolehkan untuk berikhtiar.

Kenapa harus ke non medis???

Banyak kasus pasangan suami istri yang sehat menurut dokter, tapi tidak menurut ahli non medis.

Ini kembali kepada keyakinan dan keilmuan Ayah Bunda.

Semoga siapapun yang belum mempunyai anak keturunan, Allah hadirkan sang buah hati untuk menemani hari-hari indah di dalam membangun Keluarga Bijak.


Berani Kotor Demi Kebahagiaan Si Kecil

SUAMIBIJAK.COM - Lepas perpisahan TK IQRO, Adiba merengek pengin liburan.

"Ayo Abi atuh kita liburan!!!"

Saya senyum aja.

"Udah Shalat Ashar kita liburan ya..." ajak saya.




"Beneran? Ke Sumedang kan?" ngabérébét pertanyaan Adiba.

"Kita lihat aja nanti..." sengaja Adiba dibuat penasaran.

Barang-barang yang akan dibawa sudah dipersiapkan. Termasuk perahu kertas.


"Come on...!!!" ajak saya. 

Adiba dan Afifa sudah siap penuh semangat.

"Kemana kita, Bi?" tanya mereka.

"Liburannya kita ke sawah aja ya?"

Sawah seluas 500 tumbak depan Rumah Qur'an dijadikan objek liburan sore ini.

Mereka liburan dengan gaya mereka. Bermain air, lamokot ku 'leutak', bertemu dengan keluarga keuyeup yang sama lagi asyik.

Cukup beberapa menit saja liburan sore ini. Menyisihkan waktu buat anak itu wajib.

Pendidikan parenting tak harus mengikuti seminar. Praktiknya sangat sederhana sekali.

Namanya Sudah Lahir Sebelum Terlahir

SUAMIBIJAK.COMPasca menikah, dambaan bagi setiap ayah bunda adalah segera mempunyai keturunan. Anak yang terlahir kelak diharapkan menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Pun dengan saya dan istri.

Bahkan namanya sudah saya persiapkan sebelum mereka terlahir. Waktu itu, jika saya dimanahi putra laki-laki, saya akan menamakan Muhammad Mundzir Fauzi, dan jika perempuan akan saya namai Adiba Zulfa Fauzi.


Nama adalah harapan do'a. Harapan dengan nama dibuat menjadi anak yang diharapkan setiap orang tua. Tidak hanya sebatas identitas belaka, melainkan nama bisa menggambarkan karakter, sifat dan perilaku anak. Bahkan tidak sedikit, orang tua yang meminta nama bayinya kepada pemuka agama, seperti Kyai, Ustad. Nama bayi sebaiknya adalah nama yang bagus. Jangan asal-asalan, meskipun terkesan Islami.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada Hari Qiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka, baguskanlah nama-nama kalian!” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi dan Baihaqi)


Biidznillah. Dengan izin Allah Ta’ala. Tiga kali sucian istri saya, ada berita gembira. Ternyata istri saya telat datang bulan. Harap-harap cemas, saya segera membeli alat untuk mengecek kehamilan. Jawabannya, positif. Alhamdulillah.

Hari itu sangat bersejarah, tepat hari Rabu tanggal 12 Januari 2011. Lahir bayi perempuan dengan bantuan nenek, yang kebetulan sebagai mak paraji. Bayi mungil terlahir dengan selamat. Kini bayi mungil itu sudah beranjak ke bangku kelas satu SD.

Kami termasuk keluarga yang tidak mengikuti program Keluarga Berencana (KB), tapi tetap kami ber-KB alias Keluarga Bahagia, Keluarga Banyak, Keluarga Barokah. Sampai saat ini kami diamanahi 3 orang anak: 2 perempuan, 1 laki-laki.

Indah dan nikmat yang sangat luar biasa yang harus disyukuri, Allah memberikan amanah kepada kami dengan anak-anak sholeh sholehah. Bahkan saya pernah Mengasuh 3 Anak Sekaligus. Umminya belanja, saya yang kebagian ngasuh di area permainan. Cukup berabe, tetapi dinikmati.



Semua nama anak-anak saya lahir sebelum mereka terlahir. Karena bagi saya ini serius untuk masa depan saya dan keluarga.


Ketika yang Lain Belum Mendapatkan Momongan


Dawuh Rasulullah, “Barangsiapa yang tidak bersyukur akan nikmat yang kecil, maka tidak akan bersyukur ketika diberi nikmat yang besar....”

Sungguh saya terus belajar bersyukur. Menyukuri apa yang telah Allah berikan kepada keluarga saya dengan anak. Ya. Ketika saya melihat saudara, atau teman saya yang belum dikaruniai anak. Padahal, ada yang 3 tahun belum diamanahi anak, bahkan ada yang hampir delapan tahun belum Allah kasih momongan sama mereka.

“Maka nikmat manakah yang telah engkau dustakan?”

Masya Allah. Dengan keMahaKuasaan-Nya, Allah berkendak dengan sendirinya. Allah berhak memberikan kepada hamba-Nya dengan kenikmatan yang berbeda-beda. Termasuk kenikmatan amanah keturunan.

Amanah adalah kepercayaan. Amanah adalah titipan. Suatu saat amanah itu akan diambil lagi oleh Pemilik.

Allah Pemilik Segalanya. Allah yang memiliki anak kita, termasuk kita sendiri adalah kepunyaan-Nya. Jika suatu saat anak yang kita damba-dambakan, kita inginkan setengah mati, kita urus dengan menggadaikan segala upaya pengorbanan diambil lagi oleh Pemiliknya. 

Tak ada jawaban yang paling indah selain, “Kita menerima dengan ikhlas”.
Karena sebagai makhluk yang diciptakan adalah datang dan kembali, dari Allah dan untuk Allah.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah Yang Mengurus Seluruh Alam.

Hakikatnya tak ada kepunyaan bagi kita. Tak ada kepemilikan bagi kita. Yang kita miliki sekarang adalah amanah serba gratis dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Termasuk anak. Kelak, anak kita akan menjadi penolong kita di hari pembalasan. Pun akan menjadi musuh yang akan mendakwa kita. Satu sama lain akan saling menghukumi. Saling menjatuhkan. Saling hisab.

Tentunya bagi kita yang sudah mendapatkan anak, semoga bisa menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Pun bagi siapa saja yang sampai saat ini belum juga mendapatkan momongan, semoga Allah kado terindah bagi kita, dengan mengamanahi kita dengan pangeran dan bidadari di dunia. Aamiin.


***

Artikel ini diikutsertakan dalam #GADianOnasis

Semoga banyak hikmah yang bisa diambil dari artikel sederhana ini.

Apakah Nama Bayi Harus Islami? Berikut Nama Bayi Laki-laki Terpilih dengan Arti dan Maksud

Bagi orang tua, anak adalah kado terindah yang diberikan pasca menikah. Bahkan jauh-jauh hari sebelum melahirkan, nama si jabang bayi sudah dipersiapkan. Apalagi bayi pertama. Kira-kira nama apa yang pas buat san anak.

Memang, itu yang saya rasakan ketika menikah. Daftar nama anak sudah ditulis di buku catatan. Ada puluhan saat itu nama yang akan dipilihkan untuk anak saya. Nama untuk perempuan dan laki-laki.



Mengenai nama bayi, apakah lantas nama si bayi itu harus bernada Islami biar kelihatan Islamnya?

Sebagai penguat bagi kita yang hendak atau yang sudah mempersiapkan nama bayi kita, berikut yang telah menjadi referensi bagi setiap orang tua:

Dari Abu Darda’ radhiyallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada Hari Qiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka, baguskanlah nama-nama kalian!” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi dan Baihaqi)

Nama adalah harapan do'a. Harapan dengan nama dibuat menjadi anak yang diharapkan setiap orang tua. Tidak hanya sebatas identitas belaka, melainkan nama bisa menggambarkan karakter, sifat dan perilaku anak. Bahkan tidak sedikit, orang tua yang meminta nama bayinya kepada pemuka agama, seperti Kyai, Ustad.

Berikut saya tulis 25 Nama Bayi Laki-laki Terpilih dengan Arti dan Maksudnya, supaya kitak terjebak menamakan bayi asal Arab, biar kelihatan Islami
Ahmad

1. Muhammad Mundzir Fauzi

Nama Muhammad Mundzir Fauzi, sengaja saya urutkan di urutan pertama. Karena anak ketiga saya dinamai dengan nama ini.
Baiklah, kita Artikan satu-satu suku katanya.
Muhammad, berarti Orang Terpuji
Mundzir, Orang yang Memberi Peringatan
Fauzi, Kebahagiaan atau Kemenangan

Jika disambungkan menjadi Orang Terpuji yang memberi peringatan, yang meraih kebahagian dan kemenangan.
baca: Dibalik Nama Muhammad Mundzir Fauzi

2. Hasyim Zamzami

Mendengar dan membaca kata Hasyim Zamzami, saya bisa menilai kalau bayi yang dinamakan dengan Hasyim Zamzami adalah harapan orang tua agar anaknya menjadi orang yang berwibawa.

Hasyim, berarti Pemurah
Zamzami, diambil dari Air Zamzam.

Jika diartikan secara luas Hasyim Zamzami adala orang yang pemurah yang menjadi sumber kehidupan/inspirasi.


3. Hasan Munawwir

Hasan, berarti Bagus. Juga nama cucu Rasulullah shalallhu 'alaihi wasallam
Munawwir, yang bercahaya

istimewa

4. Ramadan Qahar

5. Zainuddin Musthafa

6. Sulaiman Jazuli

7. Ahmad Yusuf Zubaedi

8. Muhammad Adib Al Ghazali

9. Hamid Nawawi

10. Umar Hamdan

Parenting Tips: Hati-hati Menghukum Anak

Parenting Tips: Hati-hati Menghukum Anak -
 “Saya mau pindahkan saja, Pak!”
Tiba-tiba salah seorang orang tua siswa datang ke rumah saya dengan nada emosi yang tak terelakan.


*** 

Anaknya berbeda dengan kebanyakan. Ia anak special, agak lambat untuk menangkap materi. Ketika anaknya duduk di kelas II, orang tuanya sengaja meminta kepada pihak sekolah supaya tidak dinaikkan. Tahun ajaran baru, si anak dinaikkan ke kelas III meskipun agak dipaksakan. Sudah dipastikan guru kelasnya pun berganti.

Guru kelasnya belum memahami benar kondisi anak ini yang sangat lambat memahami sesuatu. Juga belum paham bagaimana selayaknya memperlakukan seperti anak special satu ini. Guru kelas memperlakukan kemampuan anak di kelasnya sama.

Setelah saya menanyakan permasalahannya. Ternyata anaknya dicubit berbekas oleh guru kelasnya. Ini serius, menurut saya. Harus dilaporkan kepada kepala sekolah untuk menegur guru bersangkutan. Saya mencoba mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak.

Hukuman pada anak sah-sah saja selama tidak mencederai atau menimbulkan bekas fisik. Tentunya dengan tujuan supaya anak menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, psikis anak rusak gara-gara tindakan yang seharusnya tak perlu dilakukan oleh guru.

Dengan alasan mendidik, serta merta guru dengan sebebasnya menghukum tanpa dipikirkan bagaimana perkembangan anak ke depan.

Menghukum dengan Hati

Adakah menghukum anak dengan hati? Menurut pandangan saya jelas ada. Tentunya dengan hati yang bersih. Saya sering mendengar kisah bagaimana didikan orang tua pendahulu. Yang dengan tegas mereka menggembleng muridnya, bahkan dengan ‘memukul’ sekalipun. Tapi, mereka melakukannya dengan hati. Ikhlas. Tidak dikotori dengan hawa nafsu karena amarah. Bukan pula kesal karena ilmunya tidak bisa cepat diserap para murid.

Mereka guru ikhlas menghukum dengan hati, maka tidak mengherankan bila murid tank menyimpan rasa dendam pada sang guru. Pola seperti ini kurang cocok lagi diterapkan di era seperti ini yang sudah sangat berbeda. Apalagi undang-undang perlindungan anak semakin diperketat.

Lakukan Pendekatan

Menjadi vital bagi seorang guru melakukan pendekatan kepada murid. Pendekatan secara emosional maupun spiritual. Sudah barang tentu ketika emosional antara guru dan murid erat, harapan memiliki murid yang lebih baik akan cepat tercapai. Dibantu dengan pendekatan spiritual, selalu menyisipkan doa untuk anak didiknya.[Roni Yusron Fauzi] www.suamibijak.com









Disaat Rindu Curhatan Anak

Disaat Rindu Curhatan Anak - Adakalanya kesibukan menyebabkan seseorang menjadi jauh dari yang dicintainya. Renggangnya waktu menimbulkan polemik yang kurang harmonis. Termasuk dalam rumah tangga.

Suami atau Istri yang memiliki pekerjaan sudah pasti harus mengambil resiko kurang jauhnya dengan anak. Niat baik orang tua untuk menafkahi anak-anak, menjadi alasan terpenting bagi setiap orang tua. Tapi, yang perlu diperhatikan lagi adalah kurangnya kedekatan antara orang tua dengan sang anak.

Sebaliknya, kesuksesan dalam pendidikan dan karier anak pun menjadi penyebab kerenggangan dekatnya dengan orang tua. Jika demikian, seorang ibu akan rindu curhatan anak. Biasanya mereka membuncahkan isi hati aktivitasnya sehari-hari, kini tak kunjung datang. Gegara kesibukan masing-masing.

Lalu siapakah yang disalahkan. Jika melihat salah menyalahkan, tentu saja semua terlibat. Menurut saya, tentu saja jangan dilihat apa salahnya, melainkan kita cari tahu solusinya.

Yang diharapkan orang tua adalah, bagaimana anak-anaknya menjadi pribadi yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan sesama. Karena itulah kenikmatan yang luar biasa sebagai orang tua. (www.suamibijak.com)