Cerpen Keluarga: Ketika Ibu Pergi

Bagi Rima, ibunya sosok yang sempurna. Ia pahlawan tak berbalas. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengais rezeki sungguh tidak mudah. Menerima kenyataan adalah pilihan yang sangat tepat bagi Rima dan ibunya, lima tahun lalu ayahnya harus pergi karena diabetes yang menggerogotinya.

Dagang nasi uduk tiap pagi jalan satu-satunya bagi Bu Marni untuk mencukupi Rima dan ketiga adik angkatnya. Sebagai sulung, Rima sering membantu ibunya sekedar menyiapkan piring.

Tidak seperti biasanya, hari itu Bu Marni tak dagang. Ia harus ke Rancabuaya, mengangkat Rizal untuk menjadi  anak angkat selanjutnya. Rizal, yatim piatu yang masih ada hubungan keluarga.

Lepas Subuh Bu Marni berangkat. Perjalanan dari Kadungora ke Rancabuaya tidaklah sebentar. Tujuh jam cukup melelahkan bagi Bu Marni. Pening. Bahkan muntah dua kali. Dimaklumi karena Bu Marni jarang bepergian.
Ilustrasi Gambar:  cerana.net

Tiba di Rancabuaya, Bu Marni mendapati Rizal yang tengah asik mengumpulkan remis di pinggir rumahnya. Rizal tersenyum, menghampiri dan menciumi perempuan yang akan menjadi ibunya.

Hanya satu jam Bu Marni istirahat, ia pamit kepada bapak tua yang merawat Rizal selama ini.

Dengan gagah Rizal memakai baju kesukaannya, kaos Angry Birds hadiah almarhum ibu bapaknya. Rizal sudah siap untuk berangkat ke Kadungora dan berkumpul bersama keluarga barunya. Ia nampak senang, belum pernah ia merasakan sebahagia ini.

Elf jurusan Pamengpeuk - Bandung yang mereka tumpangi. Penuh sesak. Bahkan melebihi kapasitas. Sang sopir terlihat tidak sehat, ada aroma minuman keras di mulutnya.

Cikajang yang terkenal dengan kebun tehnya, banyak tikungan yang dijumpai. Sempat beberapa kali Elf yang ditumpangi Bu Marni dan Rizal oleng, hilang keseimbangan. Dan akhirnya…

Elf yang berpenumpang enam belas orang itu masuk jurang. Tiga orang yang selamat, termasuk Bu Marni. Dalam keadaan yang pelik seperti itu, ia mencari Rizal. Sayang, anak angkatnya itu telah berdarah di sekitar kepalanya. Nyawanya tak tertolong.

***
Bu Marni terpaku. Tiap hari tak pernah bergeming bila ditanya siapa pun, kecuali oleh Rima. Ingatan kecelakaan yang menewaskan Rizal sungguh tak bisa dilupakan. Trauma mendalam.

“Bu, kematian adalah takdir. Kita harus pasrah pada ketentuan yang sudah berlaku,” Rima mencoba menghibur.

Ibunya hanya tersenyum.

Rima tak menyangka. Kehidupan dengan mudahnya berubah. Kini ibunya telah pergi. Perjuangan dari pahlawan yang ia banggakan kini sudah tak bersisa. Perempuan yang ia hadapinya sekarang bukan perempuan yang lagi sempurna.

***
Cerpen ini ditulis oleh Tami Oktavia, anggota Kelas Menulis Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh

[CERNAK] Pukul Aku, Mah!

SuamiBIjak.com - MULAI hari ini, aku ikut mengaji di Madrasah Nurul Musthofa, pimpinan Ustad Mundzir. Dianter sama Mamah, karena belum banyak teman yang kukenal baru dua minggu aku tinggal di Perumahan Hegarmanah Regency ini.

Aku langsung berkumpul dengan teman-teman yang lain. Ustad Mundzir langsung menunjuk aku untuk ta’aruf.

“Assalamua’alaikum, teman-teman...” kumulai perkenalan dengan hati deg-degan. Grogi banget. Semua mata tertuju padaku. Suasana di dalam kelas sangat riuh sekali, sehingga mereka tidak menjawab salamku.
“Mohon perhatiannya anak-anakku!” Ustad Mundzir mencoba menenangkan keadaan.

“Apabila seorang muslim mengucapkan salam pada kita, tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk menjawabnya. Karena salam adalah saling mendo’akan keselamatan antar seama muslim” lanjut Ustad Mundzir.

Karena kharismanya, teman-teman yang tadinya bergemuruh pun langsung diam sekejap. Semua menghadap ke arahku yang kebetulan di samping Ustad Mundzir.

“Silakan ulangi!” perintah ustad yang berjenggot tipis itu.

***
TIDAK sulit bagiku untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Karena bukan sekalinya aku pindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lainnya. Sejak aku duduk di bangku kelas 3 SD. Maklum, Papah bekerja di perusahaan milik negara.

Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Itu menandakan waktunya untuk siap-siap berangkat ke madrasah. Apalagi hari ini jadwalku untuk nyamper teman dekat. Memang, agar semangat mengaji, kami berbagi tugas untuk saling nyamper teman satu sama lain.              
            
“Anak-anakku, kali ini kita akan belajar bacaan shalat dan prakteknya. Siapa yang suka shalat?” Ustad Mundzir membuka pelajaran dilanjutkan pertanyaan yang sedikit mengagetkanku.

“Aku...Aku...Aku...” Jawab teman-teman dengan semangat sambil mengacungkan tangan. Deg.
Aku hanya diam. Jujur. Kalau baca Al Qur’an, aku sudah bisa meskipun nggak terlalu lancar. Tapi untuk yang satu ini. Shalat? Wah, shalatku bolong-bolong. Paling cuma maghrib. Itu juga karena mata mamah yang menandakan waktunya TV harus dimatikan. Padahal acara kesayanganku, Spongebob lagi rame-ramenya.

“Salsa, kenapa kamu tidak mengacungkan tangan?” tanya Ustad Mundzir membuyarkan lamunanku.

“Apa kamu suka shalat, sayang?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, lalu menggeleng.
“Anak-anakku yang shaleh dan shalehah. Allah telah mewajibkan kepada kita selaku hamba-Nya untuk melaksanakan Rukun Islam. Ustad mau tanya siapa yang tahu apa saja Rukun Islam itu?”

“Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat dan Hajjiiii.....” jawab Syahrul dengan mantap.

 “Ya, benar. Shalat merupakan Rukun Islam yang kedua.  Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan shalat, yang mana shalat adalah tiangnya agama. Bila kita tidak shalat, maka agama akan roboh.” Papar Ustad Mundzir sambil mengilustrasikan sebuah bangunan di whiteboard.

“Sejak umur tujuh tahun, kita dididik untuk belajar shalat dan membiasakannya. Dimana sudah genap sepuluh tahun, maka orangtua harus memukul kita apabila anaknya tidak melaksanakan shalat.” lanjutnya dengan sangat jelas.

“Kalau kita nggak dipukul sama orangtua kita gimana?” tanyaku penasaran.

“Salsa nggak mau kan kalau orang tua kita dipukul sama Allah? ”

“Nggak mau,” aku menggeleng.

“Nah, kalau kita sayang sama orang tua. Kita sebagai anak harus mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, juga berbakti samaaa...”

“Orang tuaaaaa...” jawab anak madrasah mengamini.

“Baiklah, kita siapkan perlengkapan shalatnya. Luruskan shafnya, laki-laki di depan, perempuan di belakang.” Ustad yang ramah itu menganjurkan.

***

DUAbelas hari lagi usiaku genap sepuluh tahun. Mulai dari sekarang aku harus membiasakan shalat.

“Mah, besok jam setengah lima bangunin aku ya!” pintaku pada Mamah.

“Mau apa pagi-pagi sekali?” tanya mamah  keheranan.

“Aku mau shalat Shubuh.“

Mamah hanya mengernyitkan kening. Tapi tidak menimpaliku. Mamah hanya menganguk.

“Cha, bangun...” mamah menggoyang-goyangkan badanku.

“Ada apa, Mah? Acha masih ngantuk nih,”

“Katanya mau shalat?” mamah mengingatkanku.

Astagfirullah, teringat apa kata Ustad Mundzir, aku nggak mau kalau mamah dan papah dipukul Allah. Acha sayang sama mereka. Aku cepat-cepat bangun. Meskipun agak sempoyongan, aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudlu.

Kupejamkan mata. Bukan khusyu’, yang ada malah rasa kantuk yang belum juga hilang. Beres salam aku melanjutkan perjalanan mimpi indah di atas sejadah. Mamah yang melihat tingkahku hanya tersenyum bahagia. Alhamdulillah, meski agak dipaksakan pembiasaan shalat kurang lebih selama dua minggu membuahkan hasil. Shalatku tidak bolong-bolong lagi.
***

BESOK ulang tahunku yang ke sepuluh tahun, inilah saatnya untuk berjanji sama orang yang begitu sayang padaku. Selepas Isya, kuhampiri mamah yang sedang memijati papah di ruang keluarga. Papah tidur pulas, habis pulang dari Batam.

“Cha, papah nggak bawa oleh-oleh. Kata Papah hadiahnya besok aja. Kamu mau  kado apa?” kata mamah yang masih memijati kaki papah.


Aku diam sebentar. Kuyakinkan hati ini. “Kalo besok Acha ngga shalat, pukul aku, Mah!” pintaku sambil meninggalkan Mamah yang keliahatannya belum ngerti apa maksudku. Semoga keputusanku menjadi kado istimewa di umur yang ke sepuluh tahun ini. []

***

Oleh: Roni Yusron Fauzi, Guru Muda yang senang #bacatulis. Mengasuh Perpustakaan GRATIS Rumah Baca Asma Nadia Garut

[CERNAK] Liburan bersama Si Bolang #2

SUAMIBIJAK.COM - Hari kedua, aku begitu bersemangat untuk ikut dagang. Emak pun sempat dibuat bingung. Kenapa tiba-tiba aku seperti itu. Tapi Emak menyembunyikan keheranannya.


“Mak, apa gula sudah habis?” tanyaku tidak seperti biasanya.

“Masih ada kok …,” jawab emak yang sedang mengulek karena sudah ada dua pelanggan yang memesan.
“Kalau begitu, boleh ngga Isah ke Bu Tati. Isah mau nonton Si Bolang,” jelasku. Emak mengangguk.

Bu Tati tampak senang ketika aku berkunjung ke rukonya.

“Sini, Sah. Acaranya sudah dimulai,” ajak Bu Tati.

Ternyata Si Bolang adalah Bocah Petualang. Petualangannya hari ini berlokasi di Garut, tepatnya di Situ Bagendit. Si Bolang dan teman-temannya  ikut bersama nelayan mencari ikan. Tangkapan hari ini lumayan cukup banyak. Wah seru juga, rasanya bukan Si Bolang yang berpetualang. Tapi aku sendiri.

Hari ketiga, lagi-lagi menonton Si Bolang. Kali ini Ubi Cilembu yang ada di Sumedang menjadi objek petualangannya. Ubi Cilembu terkenal karena kemanisannya yang alami, tanpa pemanis buatan. Yang menjadi istimewa adalah ubi ini tidak akan manis bila ditanam di tanah selain di daerah Cilembu. Aneh juga ya…?

Hari-hari berikutnya, disamping membantu Emak, aku juga sering menemani Bu Tati menonton tayangan yang menjadi acara faoritku. Karena acara ini bisa memperkaya pengalaman bagi orang yang belum tahu potensi-potensi yang ada di nusantara tercinta ini.

Liburan pun usai, cerita pendek yang ditugaskan guru kelasku pun sudah selesai aku tulis. Dan siap-siap untuk dibacakan di depan kelas. Semua teman-temanku tampak antusias mendengarkan cerita liburanku. Karena liburanku bersama Si Bolang, hampir semua tempat wisata di Indonesia kukunjungi. Ternyata liburan tidak harus langsung ke tempatnya. Di rumah pun bisa.


***
* Catatan: 
- punten, pangmeserkeun gula sagandu: Maaf/tolong, belikan gula satu gandu.
- meser gula beureum sagandu: Beli gula merah satu gandu.

Oleh: Roni Yusron Fauzi, Guru Muda yang senang #bacatulis. Mengasuh Perpustakaan GRATIS Rumah Baca Asma Nadia Garut

[CERNAK] Liburan bersama Si Bolang #1

SUAMIBIJAK.COM - “Anak-anak! Liburan semester kali ini hanya seminggu. Gunakan sebaik-baiknya waktu liburan kalian. Jangan lupa tugas buat kalian, tulis cerita pendek pengalaman liburan kalian!” peritah Bu Shofiah.

“Baik, Bu….” Jawab teman-temanku serentak, termasuk aku.


Bagiku liburan atau sekolah sama saja. Toh tidak ada yang istimewa bagiku. Liburan tetap saja di rumah. Tidak seperti teman dekatku,  Risya, Kintan atau Nabila. Yang tiap liburannya selalu piknik ke tempat-tempat yang belum pernah ku temui.

“Sah, kamu mau liburan kemana?” Tanya Kintan mengagetkan lamunanku.

“Paling di rumah, Tan,” jawabku tak bersemangat.

“Kalau aku mau ke Pantai Santolo, terus ke Pangandaran, sesudah itu ke kampung nenek deh,” dengan bangga Kintan menyebutkan rencana liburannya.

“Ooo…” jawabku singkat.

“Kalau aku mau ke kampung Mamahku di Tasikmalaya,” teriak Nabila yang mendengar pembicaraan kami.


***
“Mak, kapan Isah bisa liburan kayak orang lain?” tanyaku pada Emak yang sedang menyiapkan dagangannya.

“Ya kapan-kapan,”

Selalu itu-itu saja jawaban emak setiap kuutarakan keinginanku untuk berlibur. Sama seperti liburan tahun kemarin.

“Asyik kali ya, Mak, bisa ke Pangandaran atau ke Santolo kayak Kintan. Terus kalau Nabila katanya mau ke Sumedang.” Jelasku sambil membantu merapikan dagangan. Emak hanya tersenyum.

Hari-hari liburanku diisi dengan membantu emak berdagang di depan kantor kecamatan. Dan hari ini menjadi hari pertrama liburanku membantu emak. Menjadi tukang Pecel sudah sepuluh tahun dijalani emak. Seumur denganku. Pekerjaan ini membantu bapak yang sebagai kuli bangunan, punya uang kalau ada proyekan membangun rumah.

“Sah, punten pangmeserkeun gula sagandu di warung Bu Tati!” suruh emak sambil memberikan uang dua ribu.

Aku langsung bergegas membeli gula merah.

“Bu, meser gula beureum sagandu” pesanku pada Bu Tati yang sedang menonton TV.
“Sekali-kali main ke sini, Sah. Nonton Si Bolang, seru nih…,” ajak Bu Tati sambil menyerhakan gula dan kembaliannya.

“Insya Allah, Bu,”

Si Bolang siapa itu? Aku tak tahu acara televisi, karena di rumahku memang tak punya perlengkapan tertier itu.


***
Oleh: Roni Yusron Fauzi, Guru Muda yang senang #bacatulis. Mengasuh Perpustakaan GRATIS Rumah Baca AsmaNadia Garut