Terima Kasih, Bu Rika

SUAMIBIJAK.COM - Anak-anak adalah investasi akhirat bagi saya. Investasi yang sungguh bernilai tinggi ketika kita meninggalkan mereka. Diantara kebahagiaan bagi setiap orang tua adalah mewariskan anak-ank yang shaleh.
Santri Mandiri ngajinya malam

Mengasuh anak-anak adalah aktivitas harian saya bersama istri. Mencoba memanfaatkan sisa nafas yang diberikan Allah Ta'ala. Pun mencoba mentransfer setitik debu ilmu Allah yang mengalir melalui guru-guru saya.

Dari siang sampai malam jadwal untuk mengasuh anak-anak kampung. Tak sedikit dari mereka yang ditakdirkan menjadi yatim, piatu bahkan anak-anak yang terabaikn para orang tua.

Mak, banyak sekali dorongan yang kuat bagi saya untuk membangun sebuah pondok. Sampai detik ini, masih pada tahapan pondasi. Simpel yang saya minta, saya hanya ingin harta untuk pembangunan pondok adalah harta yang berkah.

Alhamdulillah, tak ada pungutan apa pun, artinya gratis untuk mengaji, belajar di rumah saya. Yang penting ada keinginan kuat anak-anak untuk terus belajar. Tugas saya hanya sebagai pengasuh.

Rezeki yang kita terima hakikatnya dari Allah. Syariatnya melalui tangan-tangan hamba-Nya. Termasuk Ibu Rika dari Bekasi. Beliau adalah teman medsos istri saya, yang mungkin melihat aktivitas kami bersama anak-anak.

Ibu Rika yang mempunyai toko kelontongan, menjual alat-alat tulis kantor (ATK). Berhubung suaminya pindah tugas, maka terpaksa Ibu Rika pun harus menghentikan sebagai mompreneur di tokonya. Secara bertahap isi toko kelontongan itu dikirimkan ke Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh.

Beberapa hari yang lalu Ibu Rika mengirimkan kembali beberapa paket ATK: spidol, penghapus, tas sekolah,dll. Insya Allah akan saya bagikan sama anak-anak dalam acara Haflah Imtihan Santri pada bulan April atau Mei.

Terima Kasih Bu Rika, semoga bisa kami manfaatkan apa yang Ibu dan Kelurga berikan.

Mangkal di Depan Masjid, Ibu Imas Bisa Bawa Pulang ke rumah 8 JT

SUAMIBIJAK.COM - "Ketika kamu keluar rumah, niatkan setiap langkah kakimu untuk bisa mendapatkan ilmu dan hikmah yang baru!" begitu salah satu guru saya mengajarkan.

Alhamdulillah, kalimat itu terpatri dalam hati sampai sekarang.

Seperti hikmah baru yang saya dapatkan saat perjalanan dari Garut menuju Sumedang, untuk menghadiri adik (putri bibi) yang akan melangsungkan pernikahan.

Saya yakini setiap detik, Allah gerakan tubuh ini dengan jutaan hikmah yang harus digali untuk ditafakuri. Termasuk dalam setiap perjalanan kita.

Awalnya, saya akan berangkat ke Sumedang selepas mementori anak-anak di MI IQRO yang akan mengikuti Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA). Namun, Kamis sore saya harus ketemuan sama ibu-ibu pengajian di Kampung Lunjuk Girang. Saya belum sempat memberitahu pimpinan ibu-ibu majelis, kalau saya tak akan hadir. Karena menjadi tanggung jawab, akhirnya saya mengisi dulu rutinan Kamisan.

Jam lima sore akhirnya saya beramgkat dari Garut dengan Primajasa. Cileunyi menjadi tempat transit untuk pindah angkutan umum lain. Tiba di Cileunyi pas adzan Maghrib. Usai shalat berjamaah sambil menunggu angkutan umum, saya mendekati lapak dagang depan Masjid Al Musyawarah, Cileunyi, Bandung.

ilustrasi

Bercengkrama sekedar say hallo menjadi kebiasaan saya jika bertemu dengan orang baru. Termasuk ibu penjual asong ini yang saya dapati.sedang menghisap rokok kretek.

"Kopi hitam satu, Bu!" pesan saya.

Beberapa menit kemudian kopi hitam sudah siap saya minum. Rasa mual sedikit terobati dengan kopi hitam tiga ribu.


"Suka sampai jam berapa mangkal, Bu?"

" Full, A. Sehari semalam."

"Sehari suka dapat berapa, Bu?" lanjut saya.
"Alhamdulillah, rata-rata 700 ribu," sambil menghisap rokok kretek dengan sangat berat.
"Hebat juga ya?" saya semakin seru untuk terus melanjutkan obrolan ini.
"Bahkan saya pernah dapat 8 juta, A," kata ibu berkerudung itu penuh pasti.
"delapan juta?" saya nyaris tak percaya.

Ibu Imas. Sehari-harinya hanyalah pedagang yang mangkal di depan Masjid Al Musyawarah. Sudah 20 tahun sewaktu ia gadis, dan kini ditemani suaminya menyediakan barang dagangan. Kopi seduh, dan minuman ringan lainnya.

Ia mangkal bergantian dengan suaminya. Bu Imas dari pagi sampai menjelang Maghrib, sementara suaminya kebagian shif malam. Meskipun dagangannya 'hanya' minuman ringan dan beberapa cemilan, ternyata penghasilan sehari-harinya bisa mengalahkan pegawai negeri sipil. 

Meraup Omzet 8 Juta Sehari Semalam


Penghasilan sehari-harinya jika dirata-ratakan sekitar 700-800 ribu. Pernah ia mendapatkan omzet 8 juta. Ya. DELAPAN JUTA.

Ia dapatkan delapan juta dalam sehari semalam jika waktu lebaran tiba. Termasuk, lebaran tahun kemarin.
"Alhamdulllah, A. Ramadhan benar-benar bulan berkah,"

Lebaran atau Iedul Fitri baginya menjadi moment yang sangat dinanti. Karena penghasilanya sebagai pedagang bisa bertambah untuk bisa membiayai anak semata wayangnya yang sudah remaja.

Menikahkan 8 Anak yatim


Ibu Imas yang tinggal di Kampung Pasir Nangka, belakang Al Masoem ini tidak lupa diri. dalam hartanya ada rezeki orang lain. Termasuk untuk berbagi. sama halnya dengan suami yang kaya hati. Yang selalu menyayangi anak-anak yang bukan anak kandungnya.

Pernah suatu hari, suami Ibu Imas mendapati anak terlantar tak jauh di depan warung dagangannya. Setelah ditanya, sang anak adalah yatim. Tak lama-lama ia bawa anak itu untuk ia dan bu Imas asuh, layaknya anak sendiri.

"Saya sudah menikahkan 8 anak yatim, A," Bu Imas melanjutkan kisahnya.

Anak yatim yang diasuh dan dinikahkan ternyata ada yang dari Jawa, Madura dan di luar kota lainnya.Resepsi pernikhannya pun sama dengan orang-orang kebanyakan. Sewa sound sistem dan hiburan.

"Apakah ini juga berkah dari menyantuni anak yatim?" batin saya.

***

Begitu banyak ilmu, hikmah dan pengalaman yang bisa saya petik dari obrolan singkat saya bersama Ibu Imas.

Pertama, Jangan Pernah Menyepelekan Seseorang
Sering kita tertipu dengan tampilan luar. Sementara kita tidak bagaimana hati seseorang.

Kedua, Ada Rezeki Orang Lain dari Harta Kita
Harta hanyalah titipan, bukan keabadian. Jika harta itu halal, maka akan diperhitungkan. Jika haram, kesengsaraaan yang akan didapati.

Ketiga, Berkahnya Menyantuni Anak Yatim

Ada keajaiban yang akan kita dapati jika kita ditakdirkan bisa menyantuni anak yatim. Berbahagialah bagi mereka yang bisa menyantuni, membantu meringankan pendidikan anak yatim tak berbapak. Apalagi mengasuhnya.

Keempat, Ada Hikmah di Setiap Perjalanan

Selalu saja akan mendapatkan pelajaran berharga jika kita jeli menggali dalam setiap perjalanan yang kita susuri.

***
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan sederhana ini. Semoga banyak hikmah, khususnya bagi saya.



Ketika Ngasuh 3 Anak Sekaligus

SuamiBijak.com - Alhamdulillah, nikmat yang harus disyukuri. Allah amanatkan dua putri dan satu putra kepada saya saat ini. Punya tiga anak di usia yang terlalu muda sangat beresiko. Apalagi ketika emosi kepemudaan yang masih labil.

Liburan sekolah yang dua minggu belum saya manfaatkan untuk mengajak keluarga berlibur atau sekedar main-main. Aktivitas bersama anak-anak asuhan masih terlalu menjadi alasan yang kuat.



Nggak enak juga, si sulung Adiba dan pangais bungsu Afifa yang terus merengek pengin naik odong-odong. Ya. Biasanya kalau ada kesempatan waktu dan rezekinya, saya selalu mengajak main keluar anak-anak ke salah satu mini market di Leles, kecamatan sebelah.

Beda waktu, beda juga kesempatan. Kali ini semuanya saya ajak. Sudah pasti Adiba sama Afifa, si bungsu Umay pun ikut serta. Sudah sangat jelas, berabenya minta ampun. Untungnya si cinta ikut mendampingi.

Ngasuh 3 anak sekaligus sangat repot juga. Di situ sangat-sangat saya sadar, si cinta jauh lebih repot lagi kalau saya nggak ada di rumah. Apalagi sering pulang malam.

Seru. Bersyukur. Nikmat Luar Biasa.

Seru, walaupun repot gendong si bungsu
Bersyukur, ketika yang lain belum mendapatkan momongan, saya udah 3.
Nikmat Luar Biasa, masih bisa menyisihkan waktu untuk keluarga.



Bagi Suami Bijaker, jangan pesimis belum mendapat momongan. Berbaik sangka sama Allah adalah obatnya.

Ada Tips Khusus nih:
Jawaban Bijak Habib Lutfi bagi Suami Istri yang Ingin Segera Punya Momongan
Jika Momongan Tak Kunjung Datang 

Digital Literasi: Memadukan Buku dan Internet Sebagai Jendela Informasi Masa Depan

SuamiBijak.com - Bagi saya, Buku dan Internet menjadi bahan informasi tambahan saat ini. Membaca sudah menjadi kebutuhan dan hobi sejak Sekolah Dasar hingga sekarang. Dengan membaca seakan saya sedang traveling di negeri orang. Apalagi ketika saya membaca Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata.

Saya bersama anak-anak

Pun saya sangat termotivasi ketika membaca "Aku Mau Ayah"-nya Irwan Rinaldi. Kumpulan tulisan yang berisi 45 kisah nyata anak-anak yang terabaikan. Kisah-kisah dalam buku itu sangat mengena bagi saya, yang sama-sama beraktifitas di dunia pendidikan anak.

Buku kecil buah karya tokoh parenting seperti Irwan Rinaldi ini sangat sangat layak untuk dibaca, terutama bagi seorang ayah dan calon ayah. Akan ada banyak hikmah yang bisa diperoleh sebagai bekal kita untuk menghadapi anak-anak kita.

Sebagian besar isi buku "Aku Mau Ayah" ini adalah tentang kekecewaan anak-anak terhadap ayah mereka yang hampir tidak menganggap mereka ada. Sungguh miris.

Buku Aku Mau Ayah, hadiah dari Anak Muslim Indonesia

Dari buku kecil ini, saya begitu banyak pelajaran setelah membacanya:

Pertama, Menjadi Tambah Sayang Anak dan Anak-anak

Ya. Saya merasa disuntik lepas membaca buku Aku Mau Ayah, apalagi dengan judul "Anak-anak di Masjid: Kenapa Kita Mesti Cemas." Irwan Rinaldi menulis:
Menjelang shalat jumat, saya berdiri di satu di antara tiang luar sebuah masjid. Saya bertanya, apakah ini juga terjadi di masjid-masjid yang lain? Apakah anak-anak disortir atau ditakut-takuti juga? Apakah anak-anak dihardik, dibentak, dan dipelototi juga seperti itu?
Saya terus berjalan masuk masjid, ragu-ragu, dan penuh pertanyaan tentang keadaan ini. Saya berdoa semoga Allah melihat kenyataan ini dan menyuruh malaikat-Nya melakukan peneguran secara langsung kepada orang dewasa yang terlibat.
Duduk. Menghadap ke mimbar. Menunggu pembukaan dari pengurus masjid. Pembukaan yang biasa menjadi tidak biasa ketika Bapak Ustaz pengurus masjid yang fasih menukilkan ayat-ayat Al Quran itu, mengancam anak-anak secara terbuka. "Kalau mau main-main, nggak usah ke masjid. Pulang saja!" Dan seterusnya... 
Inilah fenomena di kehidupan sehari-hari. Saya merasa "ditonjok" dengan Irwan Rinaldi. Dan ini sering terjadi di lingkungan sekitar kita.

Saya yang saat ini mengasuh sebuah perpustakaan dhuafa, "Rumah Baca AsmaNadia Garut" setiap hari bercengkrama dengan anak-anak. Tambahnya sayang bukan hanya kepada anak kandung saja, justru lebih menyayangi mereka anak-anak yatim dan dhuafa.

Kedua, Menerbitkan Buku yang Sejenis

Terinspirasi dari Irwan Rinaldi yang menulis buku Aku Mau Ayah, saya pun mengajak penulis lain dalam kumpulan kisah nyata seputar anak dan ayah yang terabaikan. Buku berjudul "Aku Rindu Ayah" masih dalam proses pengerjaan sampai saat ini. Prosesnya sangat lama sekali. Karena berharap bisa tembus ke penerbit mayor.

Ketiga, Tambah Inovasi, Ide Kreatif Tambah Kaya

Ya. Saya sadari. Sering berkumpulnya dengan mereka, anak-anak, menjadikan pribadi saya untuk terus berinovasi. Memfasilitasi pendidikan gratis buat mereka.

Salah satunya adalah memfasilitasi mereka belajar komputer gratis. Mereka belajar komputer dasar, sampai mampu menjalankan beberapa program yang dipelajari. Diantaranya, Ms. Office Word, Excel, Power Point, CorelDraw dan PhotoShop.

Belajar Komputer GRATIS untuk anak yatim dan dhuafa di rumah

Harapan saya dari mereka adalah mereka harus mempunyai keahlian. Apalagi dengan dunia Informasi dan Teknologi seperti saat ini.

Pun saya mengenalkan mereka dunia internet. Menggunakan dan memahami internet secara sehat. Agar tidak kecolongan jika suatu saat mereka berselancar di dunia maya dengan jutaan konten tersebar.

Dengan menggunakan Mifi Andromax M2Y yang mendukung sampai dengan 32 koneksi pengguna dalam waktu bersamaan. Inii solusi bagi saya yang belum memasang modem berkabel. Belajar komputer pun bisa di luar rumah tanpa mengandalkan modem berkabel.

Di dunia Teknologi Informasi, saya banyak belajar dari orang-orang IT pastinya. Atau mengikuti workshop, seminar, atau kopdar bareng blogger. Termasuk waktu itu bisa berkesempatan kopdar bareng Smartfren Community.

Kopdar bareng Smartfren Community di Kampung Sampireun, Garut

Memadukan antara buku dan internet menjadi sebuah kegiatan secara berkesinambungan di Perpustakaan dhuafa Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh ini.

Dan saya sangat yakin dengan Memadukan Buku dan Internet Sebagai Jendela Informasi Masa Depan adalah langkah tepat solusi Digital Literasi di masa saat ini.

[TRUE STORY] Cintaku 40% buat Ayah

SuamiBijak.com - Sebutlah namanya Beben, teman saya yang kini telah bekerja di finance terbesar di Indonesia.
Lulusan D3 Administrasi UNPAD. Telah beristri, satu anak. Ia teman SMA saya berkarakter sanguin dan koleris. Jiwa kepemimpinannya sangat terlihat, apalagi ketika saya suruh untuk menggantikan saya menjadi pemimpin upacara ketika itu.

NAMUN, bukan leadershipnya yang saya bagikan. Cerita cinta yang cukup menginspisasi bagi saya pribadi untuk diambil ibrah (pelajaran).

BAYANGKAN, cintanya pada bapaknya sendiri bila dipersentasekan hanya sekitar 40%. Lalu kemana yang 60% nya? Ke ibunya kah, adik, kakak atau saudara yang lainnya?

 ***

Beben lahir tahun 1983. Ketika umurnya empat tahun, ia sudah ditakdirkan mempunyai orang tua dua pasang, alias orang tuanya bercerai dan masing-masing menikah lagi. Beben kecil tak tahu apa alasan orang tuanya harus melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Bercerai. Baginya mengisi dunianya yang masih polos begitu indah tanpa harus memikirkan urusan orang dewasa. Yang ia kenang, ia sering dibawa Ayahnya seminggu, sepekan kemudian Ibunya yang giliran. Seolah bola sepak yang digiring kesana kemari. Ia menikmati, walau masih tak mengerti apa maksud mereka melakukan hal itu.

Selepas TK, Beben kecil tidak lagi digiring orang tuanya dalam pengasuhan. Ia dititipkan di daerah Wado sama Pak Yaya, kakeknya (ayah tiri Ayahnya). Didikan Pak Yaya menjadikan ia sebagai anak yang mandiri, apalagi untuk masalah agama Pak Yaya-lah yang menggembleng dengan tegas. Pernah ia ingin sekali ikut melaksanakan shalat Jum’at, tapi Pak Yaya mencegahnya, “Kamu
harus suci dulu anakku, berkhitanlah!”

SINGKAT cerita, Beben bersedia untuk dikhitan demi mengikuti shalat Jum’at bersama kakeknya. Ia teringat betul bagaimana proses khitan yang ia alami. Tentu berbeda dengan zaman sekarang yang menggunakan teknologi canggih. Cukup dengan laser, prores perkhitanan selesai. Tapi tidak dengan Beben, supaya dzakar (penis)nya kebal, kalau bahasa Sundanya “baal”, ia diharuskan berendam di sungai. Setelah itu wajahnya ditutupi dengan sarung, supaya ia tak melihat pemotongan dzakarnya.
Dengan sigap sang Bengkong (juru khitan) mencapit ujung dzakar dan dipotong dengan pisau yang sudah diasah sebelumnya. Ia menangis sebentar, namun terobati manakala sang kakek menghiburnya, “Kini kau bisa shalat Jum’at bersama kakek,”
Bengkong (Juru Khitan). Sumber Gambar: Pusat Khitan Sidoarjo

Bersama Pak Yaya ia mengisi hari-harinya dengan indah. Meskipun bahasa sang kakek kadang terasa kasar, namun ia tahu hati sang kakek tak sekasar apa yang diucapkan. Kelas 1 SD ia harus rela meninggalkan Pak Yaya. Ia harus ikut Ayah dan ibu tirinya ke Bandung. Ia hanya bisa menurut walau hatinya merasa berat untuk meninggalkan sang kakek. Bersama Ayahnya hanya dua tahun, karena pengasuhan selanjutnya diserahkan sama Uwaknya.

HATI mana yang tak sakit bila dirinya merasa ditelantarkan. Apalagi oleh orang tuanya sendiri. Beben tak pernah tahu apa alasan kedua orangtuanya berpisah. Untung ia masih punya kakek yang sangat sayang. Ketika duduk di bangku kelas 5 SD, ia kembali dalam tarbiyah (didikan) Pak Yaya, kakek yang tegas, namun welas. Kali ini Beben cukup lama bisa bersama sang kakek tercinta. Sampai ia lulus kuliah D3. [RONI YUSRON FAUZI]

 Sumedang, 26 Agustus 2012
01.13 WIB


***
Saya publish di blog SuamiBijak.com, setelah sekian lama mengendap di notes facebook.

1 Keluarga 1 Perpustakaan Menuju Kampung Literasi

Menjelajah Buku, Membuka Mata Dunia menjadi motto Rumah Baca Asma Nadia. Bersyukur saya bisa menjadi bagiannya. Rumah Baca AsmaNadia Garut merupakan satu dari sekian rumah baca yang tersebar di Indonesia dan beberapa negara tetangga.

Adanya perpustakaan/taman bacaan semodel Rumah Baca AsmaNadia Garut di lingkungan dimana saya tinggal, cukup merangsang masyarakat, khususnya anak-anak lebih suka membaca. Dan inilah targetnya.

Sebagai relawan Rumah Baca AsmaNadia Garut, ide-ide kreatif harus selalu dihadirkan dan di-action-kan. Beberapa program seperti Public Speaking, Pelatihan Mewarnai, Pelatihan Nulis Kalem sudah istiqomah dijalankan. Dilanjut dengan Rumah Tekno, pelatihan komputer dasar dengan beberapa modul pembelajaran seperti Ms. Office Word, Excel, Power Point, dll. Targetnya saya ingin mengajak mereka anak-anak untuk membuat aplikasi android. Berhubung skillnya belum ke sana, maka dipending dulu.
Belajar Public Speaking

Sering saya senyum sendiri. Bayangkan, satu komputer harus digilir rame-rame. Rebutan sudah tak aneh lagi. Bagi anak-anak kampung, mereka sudah bangga hanya memegang mousenya saja.

GO!!! Kampung Literasi

Harus diawali keyakinan untuk menuju sesuatu kebaikan. Menuju Kampung Literasi, salah satunya. Langkah awal untuk menuju kampung literasi itu, saya membuat Gerakan 1 Keluarga 1 Rumah Baca Mini (perpustakaan mini keluarga). Dimana setiap keluarga akan dikirim 10 - 20 buku yang dirolling setiap seminggu sekali.

Saya memilih Kampung Lunjuk Girang sebagai pilot projectnya. Selanjutnya 6 kampung lainnya dimana anak-anak yang mengaji tinggal.

Untuk menuju Kampung Literasi dibutuhkan koleksi buku yang banyak. Sementara buku yang ada di Rumah Baca Asma Nadia Garut sekitar 500-an.

Kalau Sahabat Bijakers punya buku buku yang udah nggak dibaca lagi, daripada numpuk... Yukk di sumbangin aja. Asalkan kondisi masih layak baca.

Alhamdulillah apabila Sahabat Bijakers berkenan menyumbangkan buku buku baru untuk anak anak di Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh ini.

Apapun bentuk donasi Sahabat Bijakers akan memberi senyuman bahagia untuk anak anak di Rumah Baca Garut.

Insya Allah. Ada sebagian dari mereka adalah anak anak yang kurang beruntung untuk dapat membeli buku buku bacaan secara mandiri.

Yukk berpartisipasi untuk membantu anak-anak Indonesia menjadi lebih pintar, berwawasan dan kreatif. Mungkin usaha kita hanya sebuah langkah kecil untuk mereka, tetapi kita berharap sedikit demi sedikit dapat membantu mewujudkan mimpi mimpi anak anak Indonesia.
Om Jay, Blogger Guru Indonesia, saat berkunjung ke Rumah Baca AsmaNadia Garut.


Semoga Allah senantiasa melimpahkan kelapangan rezeki untuk Sahabat Bijakers dimudahkan segala urusannya . Aamiin

Ini alamatnya:

Kampung Hegarmanah Rt. 04 Rw. 11 Desa Talagasari
Kec. Kadungora Kab. Garut
Jawa Barat - Indonesia

Kolom Ayah: Saya Menulis Buku Demi Mereka

SuamiBijak.com - Selepas mengasuh anak kampung mengaji di rumah , saya bergegas ke pusat kecamatan untuk mengambil uang di via ATM. Saya harus membeli peralatan untuk membuat rak buku dari kardus.

Tiba di rumah peralatan sudah siap untuk dikerjakan. Cukup membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sebuah rak buku mini.

Buku-buku yang berjejer kurang rapi di lemari pojok, satu demi satu saya pindahkan. Namun, mata ini dipaksa untuk melihat lama pada sampul buku yang berjudul, "AKU MAU AYAH!". Tangan ini tergerak untuk memegang buku karangan Irwan Rinaldi itu.

Meskipun buku ini sudah saya khatamkan entah keberapa kalinya. Malam ini otak saya seakan lapar, harus cepat-cepat mencicipi 45 kisah nyata anak-anak yang terabaikan.


Kehidupan sehari-hari saya yang tiap saat harus berlama-lama dengan anak-anak, sangat terasa bagaimana manfaat dari buku setebal 212 halaman ini. Yang sangat menginspirasi. Buku yang wajib para orang tua. Tak rugi menginvestakan sedikit uang membeli buku karangan dari seorang pakar parenting seperti Irwan Renaldi. Untungnya, saya dapatkan buku ini hadiah dari AnakMuslimIndonesia.com, sebagai juara ke-2 ketika mengikuti lomba fotografi.

Saya banyak terinspirasi dan terpengaruhi dengan gaya penulisan Irwan Rinaldi. Ceritanya lepas, namun gaya sastranya begitu melekat.

Ada impian untuk mengikuti jejak seorang Irwan Rinaldi yang setia pada dunia anak. Sebagai langkah awal, sering saya tuliskan di blog pribadi kisah anak-anak, entah di sekolah dimana saya mengajar, atau pun anak kampung yang setiap petang mengaji di rumah.

Saya ingin cerita mereka menjadi inspirasi buat orang lain.

Sumber gambar: Surau Inyiak


***

Ditulis di Garut, 16 Nopember 2012

22.38 WIB