Terima Kasih, Bu Rika

SUAMIBIJAK.COM - Anak-anak adalah investasi akhirat bagi saya. Investasi yang sungguh bernilai tinggi ketika kita meninggalkan mereka. Diantara kebahagiaan bagi setiap orang tua adalah mewariskan anak-ank yang shaleh.
Santri Mandiri ngajinya malam

Mengasuh anak-anak adalah aktivitas harian saya bersama istri. Mencoba memanfaatkan sisa nafas yang diberikan Allah Ta'ala. Pun mencoba mentransfer setitik debu ilmu Allah yang mengalir melalui guru-guru saya.

Dari siang sampai malam jadwal untuk mengasuh anak-anak kampung. Tak sedikit dari mereka yang ditakdirkan menjadi yatim, piatu bahkan anak-anak yang terabaikn para orang tua.

Mak, banyak sekali dorongan yang kuat bagi saya untuk membangun sebuah pondok. Sampai detik ini, masih pada tahapan pondasi. Simpel yang saya minta, saya hanya ingin harta untuk pembangunan pondok adalah harta yang berkah.

Alhamdulillah, tak ada pungutan apa pun, artinya gratis untuk mengaji, belajar di rumah saya. Yang penting ada keinginan kuat anak-anak untuk terus belajar. Tugas saya hanya sebagai pengasuh.

Rezeki yang kita terima hakikatnya dari Allah. Syariatnya melalui tangan-tangan hamba-Nya. Termasuk Ibu Rika dari Bekasi. Beliau adalah teman medsos istri saya, yang mungkin melihat aktivitas kami bersama anak-anak.

Ibu Rika yang mempunyai toko kelontongan, menjual alat-alat tulis kantor (ATK). Berhubung suaminya pindah tugas, maka terpaksa Ibu Rika pun harus menghentikan sebagai mompreneur di tokonya. Secara bertahap isi toko kelontongan itu dikirimkan ke Rumah Baca Asma Nadia Garut yang saya asuh.

Beberapa hari yang lalu Ibu Rika mengirimkan kembali beberapa paket ATK: spidol, penghapus, tas sekolah,dll. Insya Allah akan saya bagikan sama anak-anak dalam acara Haflah Imtihan Santri pada bulan April atau Mei.

Terima Kasih Bu Rika, semoga bisa kami manfaatkan apa yang Ibu dan Kelurga berikan.

Asma Nadia Silaturahmi ke Rumah Baca Asma Nadia Garut

SUAMIBIJAK.COM - Asma Nadia Silaturahmi ke Rumah Baca Asma Nadia Garut - Asma Nadia. Siapa yang tak kenal dengan penulis perempuan produktif yang satu ini. Bagi seorang penulis pemula maupun senior, tentu  nama asli Asmarani Rosalba ini tidak begitu asing. Karyanya sangat menggugah  jiwa. Banyak rasa ketika membaca ibu dari Putri Salsa dan Adam Saputra ini.

Saya mengenal perempuan yang teguh ini semenjak SMP. Ketika itu Majalah Annida menjadi bacaan wajib dua mingguan saya. Banyak cerita buah karya Asma Nadia. Banyak pula terinspirasi dengan gaya tulisannya yang jenius. Sederhana, namun mengena. Termasuk saya.

Dari SMP pula saya punya impian untuk memiliki sebuah perpustakaan, minimal untuk keluarga. Ini karena buku bacaan seperti Majalah Annida menumpuk tidak karuan.

“Impian itu amanah!” menurut saya. Ternyata impian yang sudah lama terpendam, terkabulkan setelah saya berkeluarga.  Hebatnya lagi, perpustakaan yang saya kelola merupakan perpustakaan dhuafa seorang penulis yang saya idolakan sembari dulu.

Rumah Baca Asma Nadia

Inilah hasil dari sebuah impian. Perpustakaan dhuafa bernama Rumah Baca Asma Nadia Garut kini saya kelola bersama istri dan beberapa relawan. Perpustakaan yang saya dambakan ketika SMP.


Apakah setelah berdiri perpustakaan dhuafa itu saya bertemu langsung dengan Asma Nadianya? Oh… jangan harap. Saya paham dengan mobilitas beliau yang sangat padat. Mengisi pelatihan menulis di berbagai kota, menjadi CEO AsmaNadia Publishing House, dan banyak lagi aktivitas yang tidak saya ketahui.

Bagi saya, menjadi bagian dari keluarga besar Asma Nadia sudahlah cukup. Tidak muluk-muluk ingin disinggahi segala. Meskipun ada rasa ibtighah seperti RBA lain yang pernah dijambangi Bunda Asma.

Rezeki tidak melulu sebuah materi. Silaturahim adalah rezeki. Seperti halnya ketika Bunda Asma Nadia yang bersilaturahim ke rumah saya yang dijadikan perpustakaan dhuafa, Rumah Baca Asma Nadia wilayah Garut. Rezeki kedatangan penulis terkenal sungguh sesuatu yang tidak disangka-sangka. Maa laa yahtashib. 

Tanggal 19 juni 2013, menjadi moment spesial bagi saya. Mendadak Bunda Asma mengirim sms bahwa beliau akan mampir dulu ke Garut lepas mengisi training yang dihadiri ribuan ibu-ibu PKK di Ciamis, Jawa Barat. Itu juga kalau sempat.

Keceriaan Anak-anak Rumah Baca Asma Nadia Garut

Ternyata beliau benar-benar datang. Ba’da Maghrib. Tepat ketika itu hujan sangat lebat. Bahkan sungguh hebat. Lebatnya hujan terkalahkan dengan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Saya bersama salah satu santri menerobos air langit yang semakin menderas, menjemput Bunda Asma di jalan raya.

Pertama kalinya saya melihat penulis yang saya kagumi dibalik kaca mobil berbasah hujan. Beliau tersenyum. Tak menampakkan keletihan setelah perjalanan jauh.

Rumah saya tepat di tengah sawah. Tentu saja mobil harus diparkir agak jauh. Terpaksa Bunda Asma dan tiga orang crewnya (Bang Bandi, Mbak Dian & Bang Kamal) harus rela berjalan sekitar tiga ratus meteran. Menapaki pematang sawah yang licin bekas gempuran hujan. Berbecek-becek, terpeleset, dan hampir jatuh.

Beliau terlihat kecewa? Tentu saja tidak. Bunda Asma langsung menyapa anak-anak, seakan ia rindu dengan anaknya yang tak bertemu bertahun-tahun. Padahal itu pertemuan pertamanya. Bunda langsung berkisah, bagaimana awal beliau menjadi penulis sebagai jalan hidupnya. Bagaimana ia harus bergelut dengan penyakitnya.
Bunda Asma & Crew bersama anak-anak kami

Sungguh mengharukan sekaligus memotivasi kami yang belum bisa berbuat banyak untuk orang lain, seperti halnya Bunda Asma yang berkarya dengan tulisannya.

Bunda Asma Nadia mempunyai impian yang belum tercapai. Yaitu Panti Asuhan. Insya Allah, panti asuhan itu menjadi target saya untuk meneruskan impian Bunda Asma. Dengan membangun Pondok Kreatif & Pesantren Impian Asma Nadia yang akan dijadikan sebagai rumah inap yatim piatu dan anak-anak yang terabaikan. Insya Allah BISA!